Press "Enter" to skip to content

Susi Pudjiastuti, Kini Seorang Menteri

Susi Pudjiastuti

Diangkatnya Susi Pudjiastuti sebagai menteri kelautan dan perikanan sontak mengundang pro dan kontra di masyarakat. Hal yang diperdebatkan ialah terkait jenjang pendidikan formalnya yang hanya sampai pada tingkat SMP. Ia pernah mengenyam pendidikan menengah atas namun hanya sampai kelas II. Agaknya, Jokowi-JK punya pertimbangan sendiri sehingga mendelegasikan Ibu Susi sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Jika ukuran kinerja menteri adalah profesionalitas, lantas anggapan sekarang semakin tinggi tingkat pendidikan sesorang maka semakin professional apa masih berlaku?

Penulis tidak mencoba mendikotomi antara orang tidak sekolah dan yang sekolah, toh kecerdasan itu relati. Mari kita merenungkan kembali, apakah Ibu Pudjiastuti diangkat sebagai Menteri sudah tepat?, Biar waktu yang akan menjawabnya.

Kini, kita harus bisa bertanggungjawab untuk menjelaskan ke anak cucu bahwa sekolah itu tetap “penting”. Memang ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua, pendidik, dan seluruh stake holder kedepannya. Dengan diangkatnya Ibu Susi Pudjiastuti sebagai Menteri, semoga tidak semakin banyak orang tua yang memilih menikahkan dan menyuruh anaknya bekerja di usia dini dibanding menyekolahkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Di masyarakat masih sering kita temukan orang tua yang pikirannya konservatif yang beranggapan bahwa “sekolah untuk dapat kerjaan, daripada menghabiskan waktu bertahun-tahun ujungnya kerjaan, bukankah lebih baik langsung kerja dan tidak menghabiskan waktu lama?”. Mereka lebih mementingkan kerjaan dibanding sekolah, kekhawatiran penulius, dengan diangkatnya Ibu Susi sebagai Menteri maka akan dijadikan contoh dan pembenaran di masyarakat. Pembenaran untuk menjustifikasi bahwa yang mereka lakukan selama ini memang tepat.

Jika demikian, dalam kurun waktu 5 tahun ke depan, jangan salahkan jika masyarakat beranggapan bahwa sekolah formal tidak lagi penting atau dengan kata lain dihilangkan. Cukup melihat profesionalitas tiap individu untuk mengelola semuanya. Atau yang lebih ekstrim lagi “dunia pendidikan” yang selama ini mewajibkan kualifikasi pendidikan formal minimal setingkat di atasnya juga dihapuskan. Cukup melihat apakah seseorang mampu dibidangnya atau tidak. Ini merupakan cambuk untuk para pendidik agar mampu menjawab tantangan kedepannya. Juga sebagai “pembanding dan penyeimbang”, bagaimana mental akademisi, pengusaha, dan orang-orang yang masuk jajaran Kabinet Kerja Jokowi-JK. Apakah mampu bertahan hingga akhir dalam mengawal Indonesia, atau malah menjadi penghangat kursi pesakitan di pengadilan TIPIKOR. Semoga mereka tetap bersinergi dalam membangun Indonesia, bukan bersinergi untuk korupsi.

Baca Juga  PMII Dukung Eksekusi Gembong Narkoba

Begitu terdapat nama Susi dalam jajaran Kabinet Kerja. Sontak membuka lebar mata masyarakat. Di media sosial dengan cepat muncul foto Susi Pudjiastuti yang didampingkan dengan Atut Chosiyah. Pada gambar Ibu Susi ditulis “perokok, bertato, 2 kali kawin cerai, begajulan, tidaak berjilbab, tidak lulusSMA”. Sedangkan pada gambar Ibu Atut ditulis “tidak perokok, tidak bertato, tak kawin cerai, santun, berjilbab, pendidikan tinggi”. Dapat disimpulkan bahwa meski banyak kelebihan yang dimiliki Atut dan dianggap pantas sebagai pejabat, namun berakhir di kursi pesakitan. Semoga Ibu Susi tidak menyusul Ibu Atut untuk hal yang terakhir. Meski Jokowi-JK memiliki pertimbangan sendiri, namun masyarakat juga memiliki pertimbngan sendiri dalam berkomentar.

Munawwir Arafat

Penulis: Munawwir Arafat

Penulis adalah Ketua PB PMII Bidang Pendidikan, Riset dan Teknologi

Tinggalkan Komentar

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *