Press "Enter" to skip to content

Sarasehan Ini Perkenalkan Islam Nusantara

SEMARANG – Sarasehan yang berlangsung di Masjid Al-Ikhlas Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu Semarang ini, mengangkat tema Membumikan Islam Nusantara. Kegiatan ini digelar, untuk memperkenalkan Islam Nusantara kepada mahasiswa khususnya Universitas Diponegoro (Undip). Selanjutnya, kegiatan ini juga bertujuan untuk meluruskan simpang siur ajaran Islam Nusantara di kalangan Masyarakat, Sabtu (5/9).

Sarasehan Kawula muda ini adalah hasil kerjasama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Undip, Keluarga Mahasiswa NU (KMNU), Gudurian, UKM Rebana Undip dan Al-Izzah. Tercatat lebih dari 60 Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu hadir dan mengikuti sarasehan dengan khidmat.

Dalam uraiannya sebagai narasumber, Komandan Satkorwil Banser Jawa Tengah, Hasyim Asy’ari,S.H.,M.Si.,Ph.D yang juga merupakan dosen Fakultas Hukum Undip menegaskan, bahwa Islam Nusantara bukanlah suatu gagasan baru di Indonesia. Gus Dur, Presiden ke 4 RI pernah menggagas pribumisasi Islam.

Seiring perjalanan waktu diikuti dengan kebudayaan masyarakat yang tidak dapat meninggalkan konteks agama, Islam Nusantara muncul pada era kekinian yang masih hangat menjadi perbincangan dan perdebatan di kalangan masyarakat. Pandangan Hasyim Asy’ari, Islam Nusantara bukan berbahaya untuk Indonesia pada khususnya dan umat di dunia pada umumnya.

“Islam Nusantara adalah Islam yang benar di setiap tempat dan di setiap zaman,” ungkapnya.

Dunia yang gemerlapan seperti zaman sekarang ini memang perjuangan untuk mempertahankan ideologi dan menyebarkan ideologi bukan hal mudah. Jika ingin berjuang harus mengerti secara mendalam ideologi yang diyakini benar itu. Anjuran paling utama yaitu banyak-banyak mengaji, agar mempunyai pegangan kuat dalam menghadapi tantangan dan rong-rongan dari ideologi di luar sana.

Ojo gumunan lan ojo gampang kepincut (jangan mudah terkesima dan jangan mudah terpengaruh),” pesan dari Hasyim Asy’ari kepada peserta sarasehan.

Baca Juga  IKA PMII: Muktamar Harus Menjadi Kekuatan Moral

Ojo gumunan berarti kita jangan mudah silau dengan kemajuan zaman ini, serta ojo gampang kepincut mengandung arti jangan mudah terpengaruh dan gampang terbawa arus. Artinya kita harus mempunyai pijakan dan pegangan yang kokoh, yaitu tradisi kuat yang dipegang sampai sekarang.

“Ketika mengikuti perkembangan itu kita tidak tergagap-gagap, tidak gampang kepincut, tidak gampang terbawa arus dan tidak gampang terpengaruh karena kita punya tata nilai sendiri,” pesan Hasyim.(*/Poy)

Tinggalkan Komentar

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *