Press "Enter" to skip to content

Pendidikan Politik Dini ala Mahbub

Apabila seorang anak sudah duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, paling lambat di kelas 6, ajaklah dia ke Kebun Binatang. Begitu menginjak pintu gerbang segera bisikkan di kupingnya, “Kamu tidak mau dijebloskan ke dalam kandang seperti makhluk-makhluk itu, bukan?” Nah, jadilah kamu manusia yang paham politik. Manusia yang tidak berpolitik itu namanya binatang, dan binatang yang berpolitik itu namanya manusia.”
Mungkin pertanyaan ini akan membuatnya heran dan bertanya-tanya. Tak jadi apa. Memang begitulah cikal-bakal pertumbuhan pengetahuan, filsafat dan pribadi, diawali dengan pelbagai rupa rasa keheranan dan ingin tahu.
Agar supaya memudahkan, paling utama berhentilah barang setengah jam di depan kandang monyet. Monyet jenis apa saja pun, jadilah. “Kamu lihat monyet yang paling besar dan paling beringas itu? Dialah kepala, pemimpin monyet-monyet lain di kandang itu. Dia menjadi kepala dan menjadi pemimpin itu, bisa disebabkan beberapa faktor. Bisa karena dia paling tua, bisa juga karena paling pintar. Tetapi yang jelas karena dia paling besar, paling kuat, paling perkasa, paling mampu membanting monyet-monyet lainnya yang tidak menurut. Alasan takutlah yang membuatnya bisa menjadi pemimpin. Monyet tidak pernah mengenal sistem pemilihan seperti halnya bangsa manusia. Ini kedunguan warisan.”
***
Dari situ mampirlah ke kantor pajak. Suruh anak itu berdiri tegak bagaikan batang kerambil, pejamkan mata dan pusatkan perhatian. Bisikkan perlahan tapi pasti, ke lubang kupingnya, “Inilah kantor yang meminta-minta ongkos dari hasil keringatmu. Bahkan kamu buang air besar pun ada tarifnya. Dari uang setoranmu yang terkumpul itulah, yang bisa membikin pemerintah dengan segala peralatannya bernafas, melangkah, bahkan mengaturmu. Jika misalnya uang yang terkumpul itu kurang membuatnya leluasa, selebihnya diambil dari jual batu-batuan dan cairan yang berasal dari dalam bumimu, tidak kecuali dari lautmu. Jadi kamu itu penting dan menentukan. Jangan merasa jadi kecoak! Kamu tidak mau setor? Pemerintah akan menjadi gembel dan duduk bersimpuh di perempatan jalan. Akibatnya bisa panjang juga. Ada memang orang bule di negeri nun jauh di sana, namanya Henry David Thoreau. Entah karena jengkel atau sebab lainnya, orang bule ini berseru supaya orang-orang jangan bayar pajak. “Apa sih, Pemerintah itu?” katanya. Kalau ada orang yang setahun sekali muncul di ambang pintu rumahmu dan minta duit pajak, itulah yang namanya Pemerintah. Dia berseru supaya dilakukan civil disobedience, pembangkangan sosial. Ini hanya contoh lho, jangan kamu tiru. Yang penting, kamu mesti tahu bahwa penduduk suatu negeri itu punya harga, bukan seperti kecoak, karena dia memberi nafkah kepada Pemerintah, supaya Pemerintah bisa berdiri di atas dengkulnya, tidak terkulai. Paham kamu?”
***
Sesudah itu tuntunlah si anak melihat-lihat Kantor Pemerintah Daerah. Boleh pilih: Walikota bisa, Bupati bisa, Gubernur pun bisa. Beritahu dia, jadi pejabat Kepala Daerah itu tidak bisa semau-maunya. Ada batas waktu sekian tahun. Lagi pula buat apa lama-lama? Penduduk bisa bosan. Mereka itu tidak bisa jatuh begitu saja dari langit, melainkan lewat pencalonan yang namanya Dewan Perwakilan Rakyat tingkat Daerah.
“Asal kamu tahu saja, yang namanya Menteri Dalam Negeri memang bisa saja mengangkat orang yang kalah dalam pencalonan bahkan di luar calon sama sekali. Tak usah kamu banyak tahu dulu, karena memang begitu aturannya. Lalu, yang banyak kursinya seperti gedung bioskop itu apa? Oh, itulah yang namanya Dewan Perwakilan Rakyat, tempat para anggotanya bersidang. Mereka itu mewakili kamu, kalau kamu nanti sudah cukup umur untuk ikut Pemilihan Umum. Itu hakmu dan bukan kewajiban. Teori membedakan mana hak dan mana kewajiban ini penting, sebab banyak orang yang sudah tua bangka suka keblinger.”
Jika si anak itu bertanya, apa semuanya itu dipilih, cukup bilang “tidak”. Dan jika dia terheran-heran, jawab saja, “Nanti kamu akan tahu sendiri.” Bisa juga terjadi, dia bertanya sebab apa antara Pemerintah dengan Dewan berada dalam satu atap, katakan, “Itu cuma soal teknis, supaya pemerintah tidak capek mondar-mandir. Lagi pula Dewan Perwakilan itu menurut undang-undang yang berlaku, merupakan perangkat Pemerintah Daerah.” Cukup penjelasan sampai di situ, kalau panjang-panjang bisa bikin bingung.
Tak ada salahnya bersiap-siap menghadapi pertanyaan yang menyangkut soal Pemilihan Umum atau siapa saja pesertanya. Berilah jawaban yang sesederhana mungkin, yang mudah mereka tangkap. Bilang saja bahwa Pemilihan Umum itu boleh memilih tanda gambar peserta yang mana saja. Ketentuan ini berlaku juga buat pegawai negeri. Anak yang cerdik mungkin akan mengajukan pertanyaan mendadak, “Mengapa peserta organisasi peserta cuma tiga, bukankah konstitusi sebagai induk seluruh undang-undang, membolehkan kemerdekaan berserikat dan berorganisasi?” Menghindarlah dari jawaban, sebijak mungkin, asal jangan kentara menggelapkan sesuatu. Anak-anak sekarang berkat gizi dan akibat pengamatan lingkungan dengan mata-kepala sendiri, jangan sekali-kali dikecoh. Dia akan segera menertawakan kita, seakan kita ini seorang pelawak sirkus yang sudah diapkir dan hilang dari peredaran.
***
Serentak hari sudah panas dan matahari sudah menggantung di atas ubun-ubun, ajaklah dia pulang dulu untuk beristirahat. Tetapi jangan dipaksa-paksa. Antara “mendidik” dan “memaksa” terbentang jarak yang amat lebarnya, ingat itu baik-baik. Kalau –ini kalau, lho– kebetulan lewat Kantor Kelurahan, boleh juga sambil lalu diterangkan ala kadarnya ihwal apa itu Lurah. Bilang kepadanya, bahwa dalam garis besarnya ada dua macam Lurah atau Kepala Desa. “Ada yang ditunjuk begitu saja seperti kita menunjuk jenis permen apa yang berkenan, dan ada yang lewat pemilihan oleh penduduk. Yang disebut belakangan ini biasanya terjadi di desa. Tetapi Lurah model pilihan ini pun memiliki ciri yang berbeda-beda. Ada yang lewat pemilihan murni dan ada pula yang lewat pilihan yang ‘dipersiapkan’.” Jika nyinyirnya sudah tidak tertahankan, jawab saja bahwa penjelasannya lain kali, berhubung perut sudah lapar. Perut yang lapar membuat pikiran jadi buntu.
Taruhlah ada waktu luang dan cuaca sesuai benar dengan ramalan Direktorat Metereologi dan Geofisika –persis tidak meleset walaupun cuma setetes air– maka tuntunlah anak itu ke gedung museum, andaikata di kota domisili ada museum dalam makna lumayan. Sekali lagi, itu andaikata! Sebab, pada zaman sekarang ini, pikiran orang sudah mulai terkuras habis untuk membangun hotel, rumah bola sodok, lapangan golf, tempat mandi uap dan panti pijit serta diskotik, sehingga nyaris tak ada sisa buat membangun museum. Karena itu, jika di kota domisili ada gedung museum, tidak ada aibnya bertepuk tangan sambil melompat-lompat.
Begitu kaki menginjak gerbang, katakanlah kepadanya bahwa dia bukanlah makhluk yang membrojol begitu saja dari lubang batu, melainkan merupakan mata rantai dari rentetan sejarah panjang ke belakang dan jauh terentang ke depan entah dimana batasnya. Setolol-tolol orang adalah mereka yang tak tahu apa itu sejarah, dan sehina-hinanya orang ialah mereka yang memalsukan sejarah, mengerikitnya seperti tabiat busuk makhluk tikus. Perbuatan macam itu selain akan jadi bahan tertawaan, juga sia-sia saja. Sang sejarah sendiri yang perkasa, akan me-niban-kan batu besar ke kepala hingga luluh lantak jadi bubur.
“Kamu punya buku pelajaran sejarah wajib di sekolah, bukan? Ketahulilah olehmu, setiap yang namanya ilmu – tidak kecuali sejarah – harus siap dan rela diuji serta dipertanyakan benar atau tidaknya. Jangan kamu telan begitu saja sepeti sebutir kacang. Ragu-ragu itu suatu langkah yang mesti ditempuh, jika kita mau sampai ke keyakinan yang tak tergoncangkan. Barangkali gurumu akan tampak gusar jika kau kelewat sering mengajukan pertanyanaan yang kurang biasa, tapi –percayalah– gusarnya itu cuma gusar formal belaka, sebagaimana pantasnya dipertunjukkan oleh seorang pegawai negeri. Belum tentu sampai di hati. Bisa jadi dengan diam-diam dia membenarkanmu, mudah-mudahan. Hati bercabang, rohani retak, sikap ganda; sedang menjadi musim, seperti halnya musim rambutan. Pendapat hati dan pendapat perut punya gardu masing-masing.”
***
Sekali tancap dari museum langsung mampir ke rumai gadai. Berbeda dengan museum, rumah gadai terdapat di tiap kota, bahkan satu kota sering punya lebih dari sebuah rumah gadai. Mengapa tidak memperlihatkan bank? Rumah gadai lebih mudai dijangkau, bisa dilihat dengan mata telanjang, tidak terlalu banyak menyimpan rahasia yang sukar ditembus. Tapi yang penting, rumah gadai itulah pencerminan sejati lapisan terbesar penduduk kita, yaitu rakyat kecil, yang pada suatu pagi –begitu bangun tidur- tahulah dia bahwa tak ada uang sepeser pun di kantong.
Pergi ke bank? Peraturan bank yang begitu ruwet akan menambah pening kepalanya dua kali lipat. Maka pergilah dia ke rumah gadai membawa barang jaminan yang melekat di badan. Bisa berupa kain batik, atau leontin peninggalan nenek-moyangnya. Berjuta penduduk setia berhubungan dengan rumah gadai, dan bukan bank, karena itu arahkanlah pandangannya ke bawah, bukan ke langit. Jangan ke mobil sedan, melainkan ke bis metro mini yang para penumpangnya senantiasa berdesak-desakkan sambil ber-’olahraga leher’, terbungkuk-bungkuk karena terpaksa.
“Bapakmu punya mobil yang dibeli dari hasil gaji dan keringatnya sendiri? Betul? Tapi yang seperti bapakmu itu bisa dihitung dengan jari kaki. Mengertikah kamu apa yang disebut ‘sistem’? Mungkin masih samar-samar, tak apa. Nah, jika sistem ekonomi salah, maka bunutnya bisa panjang. Misalnya, yang mestinya bukan pedagang malah berdagang. Yang mestinya pedagang malah tidak bisa berdagang. Yang mestinya sekolah malahan main di comberan. Semua itu akibat sistem yang salah.
Pernah mendengar tentang hak asasi? Tentu pernah, walau mungkin hanya samar-samar. Itu penting kamu ingat-ingat mulai sekarang, karena hak asasi itu merupakan harta bendamu yang paling berharga. Jauh lebih berharga daripada rumahmu, sepedamu, sepatu roda dan bola tendangmu, digabung jadi satu. Sekarang barangkali belum begitu terasa arti pentingnya, tapi kalau kamu sudah dewasa kelak, dia akan merupakan suatu taruhan. Bisa membuatmu jadi manusia yang punya harga diri, tapi bisa juga membuatmu seperti seekor cacing.
Supaya lebih jelas, dengarkan baik-baik. Kamu punya hak asasi untuk mengeluarkan pendapat, punya hak asasi berkumpul dengan sesama orang yang sepaham, punya hak asasi apakah kamu mau berjongkok atau menungging, sepanjang tidak membawa malapetaka bagi tetangga.
Mulai sekarang harus kautanamkan ke kepalamu bahwa hak asasi itu sama pentingnya dengan sepiring nasi. Bisakah kamu enak tidur tanpa melahap nasi sepiring pun? Tak seorang pun, sekali lagi tak seorang pun, yang diperbolehkan merampas hak itu darimu. Begitu hakmu itu terampas, kamu bukan lagi manusia biasa, melainkan semacam segumpal asap.”
***
“Besar kemungkinan, bapakmu di rumah suka menyebut-nyebut istilah yang namanya ‘warisan’. Jika yang dimaksud ‘warisan’, itu berupa benda, entah rumah, entah truk, entah kebun kelapa sawit, atau mungkin berupa utang yang mestinya dibayar oleh bapakmu, itu bukan urusanmu. Itu memang ada hubungannya dengan hakmu, ibumu, hak kakak serta adikmu. Tidak ada orang yang perlu mencampuri, karena aturan-aturannya sudah tersedia. Tapi kalau bapakmu –siapa tahu– menyebut-nyebut tentang ‘nilai-nilai’, maka ini soalnya sedikit lain.
Seperti halnya uang logam ratusan, nilai itu punya dua sisi yang berbeda satu sama lain. Ada nilai yang bagus, tapi ada juga nilai yang jelek. Sejak sekarang kamu mesti melatih diri untuk memisahkan, mana nilai baik dan mana nilai yang busuk, culas, serakah, srigala, ular kobra, ataupun kucing garong. Bilang kepada dirimu sendiri serta juga kepada bapakmu, bahwa kamu cuma punya bakat mewarisi nilai-nilai baik dan alergi terhadap nilai-nilai kaleng rombeng. Jika bapakmu itu pikirannya waras, dia akan bersenang hati serta merasa bangga, dan langsung mencium jidatmu.
Bapakmu berlangganan koran? Aneka macam koran? Itu bagus. Masa bodohlah apa koran itu dibelinya atas pilihan sendiri atau langganan wajib lewat kantornya, pokoknya koran. Biasakan banyak membaca, termasuk baca surat kabar ini. kamu harus berusaha agar kesenanganmu membaca koran sama dengan kesenanganmu makan rujak. Tapi, membaca surat kabar pun jangan asal membaca. Langkah apapun yang serampangan, tidak bagus. Pakailah daya menimbangmu semaksimal mungkin. Jangan asal suap dan asal telan, nanti ketulangan.”
(Mahbub Djunaidi: Kompas, 10 Maret 1981)
Baca Juga  Mukhtar Pimpin PMII Banten 2 Tahun Kedepan

Tinggalkan Komentar

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *