Mewaspadai Ekstrimisme Lewat TPQ

tpq

Siapa tidak mengenal TPQ? Mungkin di tiap daerah punya sebutan sendiri-sendiri. Taman Pendidikan Al-Qur’an (biasa disingkat TPQ atau TPA) adalah suatu tempat pendidikan dini bagi anak-anak untuk mulai mengenal dan meningkatkan kemampuan bacaan Al-Qur’an serta menanamkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Menarik kita lihat bagaimana perkembangan TPQ dewasa ini. Beberapa sudah menggunakan sistem klasikal, dan para murid dikelompokkan ke dalam beberapa kelas sesuai kemampuan bacaannya atau sebanyak apa jumlah ayat yang mereka baca. Beberapa sistem pengajaran juga memudahkan untuk menggolongkan mereka ke dalam kelas, kita mengenal sistem Baghdadi, Qira’aati, Tartiila, Iqra’, Yanbuu’a, dan banyak lainnya untuk memudahkan mengenal dan membaca ayat Al-Qur’an.

Selain itu dalam sistem klasikal itu selain membaca Al-Qur’an sering ditambah dengan pelajaran Bahasa Arab dasar, Fiqih Ibadah, Akhlaq dan Etika sehari-hari tergantung dari sisi mana kecocokan intelektual tersebut untuk menerima muatan materi. Di sisi lain masih banyak juga TPQ tanpa sistem klasikal, dan para murid dibimbing oleh guru yang lebih sedikit. Dari sini guru dituntut sabar mendidik murid dari segala tingkatan kemampuan membaca.

Kita bisa melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem. Dalam sistem klasikal, dibutuhkan guru yang lebih banyak untuk mendidik di kelas-kelas yang berbeda. Sebaliknya, dalam sitem tradisional, guru akan kesulitan untuk mengajar jika banyak jumlah muridnya.

TPQ yang “Sehat”

Penulis turut menyayangkan keadaan banyak TPQ saat ini. Di balik makin baiknya infrastruktur masjid-masjid kita, TPQ-TPQ yang dulu dikembangkan mulai berkurang animo muridnya. Anak-anak SD saat ini di sore hari lebih banyak yang pergi ke lokasi les privat ataupun lelah setelah bersekolah sampai sore. Namun syukurlah, masih banyak orang tua yang dengan berat hati memaksa anak-anaknya untuk pergi mengaji dengan ikhlas.

Baca Juga  Dilema Rakyat, Dibalik Pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat

Hal yang juga turut diperhatikan adalah masalah pendidik yang berada di TPQ tersebut. Pergerakan kaum fundamentalis, dalam hal ini yang membawa ajaran-ajaran yang dapat disebut ekstrem, telah banyak menghinggapi masjid-masjid kita. Sedikit banyak kegiatan-kegiatan masjid diperbarui, kemudian pos pengajar-pengajar TPQ mulai diisi oleh anggota kaum tersebut yang memang sekilas amat islami dari segi pakaian dan perilaku. Bacaan Al Qur’an mereka juga fasih, dan sejauh hanya dalam batas-batas tersebut, rasanya itu adalah hal yang baik, dan para murid pun menjadi lebih baik ajaran Al Qur’annya.

Namun yang perlu diwaspadai adalah jika mereka menanamkan nilai-nilai ekstremisme mulai dari hal-hal terkecil, seperti dalam akhlaq berpakaian, akhlaq dengan teman, akhlaq dengan kedua orang tua, sampai pada titik tertentu menanamkan permusuhan dengan kelompok lainnya, bahkan ajakan-ajakan untuk berani berdakwah dan berjihad. Murid TPQ yang kebanyakan adalah anak-anak, tentunya akan tertarik dengan ajakan semacam itu.

Para pendiri TPQ tentu berusaha menanamkan nilai-nilai Qur’ani tanpa pretensi apapun. Mereka dengan ikhlas mendidik murid-muridnya yang masih kecil, dan begitu sang murid sudah besar kerap kali pengajar TPQ yang mulai menua terlupakan begitu saja. Dalam keadaan tua semacam itu, tentu saja mereka membutuhkan pengganti yang akan meneruskan jejak TPQ itu. Bagaimana jika ternyata para penerus yang menawarkan diri untuk mengembangkan TPQ adalah kaum-kaum yang bersikap ekstrem dalam beragama? Maka amat disayangkan jika generasi muda kita berkembang dalam sikap menolak dengan budaya yang telah mapan di masyarakat.

Sistem pengkaderan agaknya perlu diperhatikan dalam membina TPQ. Seperti kita ketahui, bahwa seorang pemimpin yang baik adalah orang yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Sebagaimana pesantren, TPQ berkembang dari dengan pijakan budaya setempat. Selayaknya para pembina TPQ yang baru ini adalah warga kampung itu sendiri, yang memahami bagaimana keadaan kampung tersebut. Dibutuhkan putra-putri kampung yang mau turun tangan, kembali mengabdi untuk meneruskan estafet pendidikan Al Qur’an di sana. Jangan mudah mempercayakan pendidikan agama anak-anak kepada orang luar yang sangat mungkin mempunyai misi tertentu.

Baca Juga  Tahlil Untuk Ketua Umum PB IKA PMII

Pendidikan pemuda kita sebenarnya telah mencapai tahap yang menggembirakan. Banyak dibuka kampus-kampus yang membuka jurusan-jurusan pendidikan guru agama. Selain itu, berbagai metode pengajaran telah dikembangkan oleh para ahli. Namun terkadang metode-metode yang dibawa dari kampus-kampus adalah hal-hal yang sulit diterjemahkan ke dalam masyarakat, dan terbentur dengan realitas yang ada. Kecakapan seorang guru dan keikhlasan amat dibutuhkan.

Untuk membentuk TPQ yang sehat, diperlukan keyakinan yang lapang, pikiran yang kreatif, dan jiwa yang tulus. Al Qur’an harus dibumikan dan terus dilestarikan gemanya dalam masyarakat, dan terus terbuka untuk menerima nilai-nilai kemasyarakatan yang luhur. Tingkatan awal usaha menghidupkan dan menjaga keberadaannya adalah dengan mulai mempelajari cara membacanya. Wallahu A’lam.

M. Iqbal Syauqi, santri PP. Nurul Ulum Malang, anggota CSS MoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(dilansir NU Online, 2 Desember 2014)

300x250
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *