Menahan Kencing Tiga Jam Demi Buku

Oleh: Abdullah Alawi

Saya sadar menahan kencing itu bukan perbuatan terpuji. Bisa menimbulkan infeksi di kandung kemih atau gangguan ginjal. Saya sadar, perkakas yang dititipkan Tuhan itu harus dijaga sebaik-baiknya. Cara menjaganya, ya paling tidak, menunaikan hasrat di tempat semestinya ketika ia mengirim alarm bahwa kapasitas muatan penuh.

Tapi sekali waktu pernah saya menahan kencing. Bukan di istana presiden karena sungkan demi mengikuti pengarahannya. Bukan pula di tengah konser tenggelam dalam lautan manusia. Bukan! Tapi di kosan saya sendiri. Waktu itu, saya menahan kencing sambil merokok dan ngopi, bahkan sesekali tertawa. Tapi ngopi dan merokok dalam keadaan demikian, sungguh datar, tawar, dan hambar. Tidak reflektif!Sebetulnya waktu itu toilet kosan saya normal senormal-normalnya baik dari sisi kesehatan maupun infrastrukturnya. Sementara kaki dan tangan saya tidak diborgol polisi mana pun. Juga tubuh saya bisa dikatakan sehat walafiat lahir batin. Dan tentu saja saya hafal di luar kepala cara kencing yang baik dan beradab.

Saya terpaksa melakukannya gara-gara tukang kencing sembarangan. Di komuniatas saya, ia mashur dijuluki pendekar pengencing sapanduk raktor. Entah benci atau suka, jika ada spanduk yang memampang foto pemimpin tertinggi kampus, teman saya, dengan segala cara akan mengencinginya. Naudzubillah!

***

Pada Jumat, beberapa bulan lalu, saya ditemui teman lama yang tidak ketemu. Ia ingin menumpang istirahat di kosan saya karena dari semalam belum tidur. Soal tidak tidurnya, saya tak berminat menanyakannya. Suka-suka dialah. Tidur dan tidur urusan kebrengsekannya.

Tentu saja saya iyakan. Jangankan teman berjasad manusia, rayap, kecoak, cecak, nyamuk, laba-laba, dan debu saja saya persilakan hidup bersama tanpa diminta bayaran sepeser pun. Jangankan presiden, mantan atau mantan calon dan mantan bakal calon presiden pun, saya perbolehkan istirahat di tempat saya. Dengan cuma-cuma!

Baca Juga  PC PMII Trenggalek Adakan Bedah Buku

Basa-basi saya ketika sampai di ruangan 4 m x 3 m itu adalah, “maaf ruangan gua berantakan”. Pada hakikatnya itu tak perlu saya ungkapkan dan ia juga tak perlu mendengarnya. Tapi subtansi basa-basi memang mengatakan yang tak perlu. Saya lakukan demikian, meski ini lagi-lagi tidak penting, supaya dia mengetahui bahwa saya belum berubah. Dan barangkali dia sudah berubah.Tidak kerasan di ruang berantakan.

Ketika di ambang pintu, langsung ia membentur koleksi buku saya. Memang lemari saya pasang persis segaris dengan pintu sehingga membentuk lorong sampai ujung tembok. Tentu saja dengan menyisakan ruang seukuran badan yang memungkinkan belok kiri dan masuk ke ruangan yang saya alasi dengan karpet warna gandaria. Di situlah kami duduk, ngopi dan merokok. Dia langsung rebahan, saya mulai ingin kencing.

Rebahannya tidak lama, karena tiba-tiba bangkit dan mendekati lemari buku.

“Ini buku gua! Kok bisa ada di elu, Bung?” katanya setelah membuka-buka halaman buku itu.

“Syetan lu. Itu buku gua,” kontan saya menjawab.

“Ini buka gua. Jelas. Ini lu sobek kan halaman pertamanya. Kemudian lu tanda tangani di halaman pertama. Jadi gua kehilangan jejak.”

“Bajigur! Itu buku gua. Udah, udah simpen lagi!”

Dia menyimpan buku itu. Tapi tangannya mengambil buku lain. Dan selalu mengklaim itu bukunya yang hilang. Seperti politikus, dia pandai sekali main klaim. Orang yang berjajar 3 orang disebutnya barisan 3000 orang. Monyong!

Kemudian saya tarik tangannya dengan paksa. Hampir menyeretnya.

“Udahlah ngopi saja, bajingan!”

Tapi matanya tetap saja hilir mudik ke buku-buku saya.

“Wah, ternyata memang lu masih bajingan! Mata lu masih jelalatan!”

Pada akhirnya dia agak tenang juga memacakkan pantatnya di lantai. Menyalakan rokok dan meneguk kopi sasetan yang tidak aduhai.

Baca Juga  Lahan Pertanian Menipis, PB PMII Soroti RTRW Nasional

Kemudian berceritalah ia tentang pernikahannnya, malam pertamanya, dan anaknya. Juga tentang ayam. Menurut dia, hewan itu menyerap energi negatif. Tanpa saya minta, ia memberi kuliah umum tentang ayam.

“Binatang itu mampu menetralisir hawa negatif kita. Pas pulang gua ngasih makan. Juga pagi sebelum kerja. Pas setelah pulang, ngasih makan lagi. Binatang menyerap emosi-emosi negatif dan kepenatan kita. Gua melakukannya tanpa tendensi apa-apa. Gua tak mau mejualnya, tak mau memakannya. Ayam yang gua pelihara ayam kate. Mau dijual juga tak ada yang butuh. Gua memeliharanya tanpa nilai. Seenggak-enggaknya bisa mengurus apa yang dititipin Allah,” katanya.

Syukur alhamdulillah teman saya mengakui kenegatifannya dan rada-rada religius. Mungkin sering mampir ke beranda pemuka agama atau ahli kebatinan. Mungkin juga sesekali baca-baca buku motivasi. Tapi tetap saja dia kurang ajar karena kenegatifannya “meminta” diserap makhluk lain dengan dalih menjaga titipan Allah. Jadi tetap saja bajingan dia.

Ia juga bercerita tentang tanaman. Ia menanam jarak di halaman rumahnya. Asbabul wurudnya ketika anaknya mencret-mencret. Orang tuanya dari seberang menyuruhnya untuk mencari daun pohon itu, diolesin di udelnya. Ia pun mencari-cari pohon itu dengan menanyakannya ke tetangga. Setelah dapat, ia mengikuti anjuran ibunya, terbukti anaknya tidur pulas dan besoknya bangun sonder mencret.

Saat itu kami juga ngobrolin teman satu per satu. Ketawa jika ada yang harus diketawakan. Tapi tak perlu menceritakan hal-hal yang menyedihkan. Soalnya kami suka yang ceria-ceria. Tapi saya tak ceria sebetulnya, karena menahan kencing.

Hampir terlewat, ia juga menceritakan kebahagiaannya sebagai wartawan bola yang sudah tak diedit sehuruf pun oleh redaktur. Dan dia menunjukkan karyanya. Saya simpan koran itu di kamar sampai dan belum membacanya sampai sekarang.

Baca Juga  Kisah Menaker Hanif Sebagai Anak TKI

Ia tampak bahagia dengan capaiannya itu. Karenya tentu saja saya turut bahagia. Tapi tetap saya tak bahagia karena kantung kemih saya berdering-dering. Tapi tetap harus mengabaikannya.

Saya harus menahannya karena dia datang dengan menenteng tas. Pikiran saya terganggu dengan tas itu. Jika saya nekad kencing dengan durasi 3 menit saja, 10 buku bisa raib. Urusan lain dia bersahabat. Urusan buku, sangat culas!

Seandainya di celana saya dilengkapi peralatan pampers merk apa pun oleh ibu terkasih, tentu akan didayagunakan saat itu. Oh, ibu, betapa malang nasib anakmu ini. Mimpi apa pas mengandung? Kok bisa-bisanya punya kawan Personek satu itu.

Dalam sejarah, dicatat Pertempuran 6 Jam di Yogyakarta atau dikenal Serangan Umum 1 Maret. TNI berhasil menguasai kota itu. Sementara saya, tercatat sebagai orang yang berjuang mempertahankan serangan pendekar pengencing spanduk rektor. Saya berhasil mempertahankan buku selama tiga jam yang terkutuk.

NB:
Selama tiga jam ngobrol, sepertinya dia tak ada ngantuk-ngantuknya. Istirahat dan tidak tidur semalam adalah senjata untuk mengecoh saya. Tapi sejarah mencatat, saya tak bisa dikelabui.
300x250
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *