Meluruskan Makna Jihad: Harus Memahami Munasabah Ayat

nasaruddin umar

Yang dimaksud dengan munasabah ialah sebuah konsep dalam Ulumul Qur’an yang membahas tentang pemaknaan ayat secara komprehensif dengan menghubungkan antara ayat-ayat sebelum dan susudahnya, antara pembuka ayat dan penutup ayatnya, dan antara ayat dengan nama surah yang menjadi tema sentralnya. Konsep munasabah amat penting bagi para mufassir, karena orang yang tidak memahami munasabah sebuah ayat lalu fokus hanya memahami ayat itu berpeluang terjadi salah penerapan (misscontext). Sebagai contoh dalam ayat “…… bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian” (QS At-Taubah/9:5).

Potongan ayat ini sering diperkenalkan oleh kelompok radikal, khususnya kaum teroris, sebagaimana yang sering ditemukan di dalam buku-buku doktrin mereka. Sepintas ayat ini kelihatan amat menyeramkan. Apalagi kata “al-musyrikun” diartikan dengan “non-muslim”. Ini artinya ada izin membunuh di manapun dan kapan pun. Tidak perlu ada rasa bersalah dan berdosa, karena ayat ini menjadi dasar bolehnya membunuh dengan cara apapun mereka yang non-Islam, apalagi yang nyata-nyata memerangi Islam. Padahal ayat tersebut hanyalah potongan tengah ayat. Ayat seutuhnya ialah “Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah dari tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Susungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS At-Taubah/9:5).

Pemahaman yang dapat diperoleh melalui potongan tengah ayat, dipisahkan dengan kata yang megawali dan kata yang mengakhiri ayat itu, ditambah lagi tidak dihubungkan dengan ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat tersebut. Pemahaman ayat dengan cara demikian betul-betul bisa membuat orang, khususnya orang yang telah mengalami proses doktrin, bisa melakukan berbagai tindakan nekat, radikal dan teroris. Akan tetapi, sebaliknya jika dibaca ayat tersebut secara utuh, lalu dihubungkan dengan konteks ayat sebelum dan sesudahnya, kemudian menyimak sebab nuzul ayatnya, maka pemahaman dan sikap yang bisa muncul sangat berbeda dengan sebelumnya. Ayat tersebut di atas sesungguhnya lebih menonol sebagai ayat dakwah ketimbang sebagai ayat jihad atau peperangan.

Baca Juga  PMII Jombang Perkuat Kelembagaan KOPRI

Perhatikan permulaan ayatnya diawali dengan kata idza (apabila), berarti bersifat kondisional. Bagian penutup ayatnya di akhiri dengan kata penekanan sifat Allah yang paling dominan di dalam Al-Qur’an, yaitu “Sesungguhnya Allah Maha Pengamoun lagi Maha Penyayang”. Kata Ar-Rahim (Maha Penyayang) adalah sifat Allah Swt paling dominan di dlaam Al-Qur’an. Terulang sebanyak 114 kali. Bandingkan dengan kata Al-Muntaqim (Maha Pendendan) dan Al-Mutakabbir (Maha Angkuh) hanya terulang masing-masing sekali dalam Al-Qur’an. (Maq)

Ditulis oleh: Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar (dikutip dari Harian Rakyat Merdeka)

300x250
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *