Press "Enter" to skip to content

Meluruskan Makna Jihad, Antara Kekerasan dan Terorisme

Oleh: Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar

Kekerasan tidak identic dengan terorisme. Tidak semua tindakan kekerasan adalah tindakan terorisme. Sebaliknya, tidak semua tindakan terorisme adalah tindakan kekerasan. Sesungguhnya hal ini sangat tergantung kontroversi makna kekerasan dan terorisme itu sendiri.

Satu tindakan kekerasan bisa dianggap jihad oleh suatu kelompok tetapi kelompok lain menganggapnya tindakan teroris. Contoh penjatuhan sanksi sepihak kepada suatu kelompok yang menyebabkannya tersiksa, tercekam, terancameksistensi dan kelangsungan hidupnya, maka itu disebut tindakan teroris meskipun tidak dalam bentuk kekerasan. Diatas segala-galanya, tentu yang paling menentukan dalam hal ini ialah definisi “kekerasan” dan “terorisme”.

Ketika perang antar Iraq dan AS berkecamuk di Timur Tengah, media-media barat mengklaim Iraq sebagai negara terorisme dan Saddam Husain dianggap biang teroris dan harus ditundukkan. Alasannya karena Bagdad menyimpan senjata kimia dan menimbulkan kekacauan di Timur Tengah. Akan tetapi pihak Bagdad mengklaim sebaliknya, justru AS dan sekutu-sekutu yang teroris, karena merekalah yang secara nyata menyerang kedaulatan negara Iraq. Mereka yang mengepung dan membombardir Iraq. Dengan demikian menurut sekutu Bagdad, termasuk Iran, The Real Terrorist ialah AS dan sekutu-sekutunya. Pihak Iraq hanya berposisi sebagai negara yang membela diri. Endingnya Iraq dalam waktu dekat hancur, Saddam Husain dan keluarganya dibunuh, tetapi ternyata senjata kimia yang dituduhkan sama sekali tidak pernah ditemukan sampai sekarang.

Definisi teroris (terrorism) yang didefinisikan di dalam kamus Oxford, sebuah kamus standar di AS dan negara-negara barat, justru tidak digunakan, karena jika definisi yang dijelaskan dalam Oxford dipergunakan maka AS dan sekutu-sekutunya termasuk dalam kategori teroris, karena menebarkan rasa takut, menimbulkan kecemasan, dan mengancam jiwa orang yang tak berdosa.

Baca Juga  PMII Subang Desak Pemda Bentuk BPBD dan Bangun RS

Sebaliknya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh suatu komunitas muslim dengan alas an membela panji-panji suci keagamaan mereka, maka itu bukan tindakan kekerasan dan teroris tetapi dimaknai sebagai perang (al-qital) atau jihad fi sabilillah.

Dalam Islam kekerasan dilarang tetapi peperangan ditolerir. Nabi pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt tidak mengutusku untuk melakukan kekerasan, tetapi untuk mengajar (mu’allim) dan memberikan kemudahan (muyassir)” (HR. Ahmad dalam kitab Musnad). Hadits lain mengatakan:

“Sesungguhnya Allah swt Mahakasih-sayang (al-Rafiq). Melalui sikap kasih-sayang Allah swt akan mendatangkan banyak hal positif, tidak dengan kekerasan”. Bahkan Allah Swt pun melarang melakukan kekerasan untuk dan atas anama agama: La ikraha fi al-din (tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) (QS. Al-Baqarah:256)

Sumber: Rakyat Merdeka, Minggu 1 Februariu 2015

Tinggalkan Komentar

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *