Press "Enter" to skip to content

Melodrama Sebuah Jalan (Pemenang II, Lomba Puisi)

Kepada Para Sahabat Pergerakan

 

Pada akhirnya, para demonstran itu akan mati

Tak ada yang tersisa kecuali puisi

Juga anyir darah yang amisnya

Masih tercium sepanjang peristiwa

 

Di jalanan, tempat kita berdiri

Menantang wajah matahari

Sambil melepaskan suara angin

Ke balik gedung kota yang dingin

 

Kita berdiri

Atas nama pilar bangsa yang retak

Kehilangan setiap mimpi

Yang diruntuhkan oleh kejamnya sebuah negeri

 

Lalu, untuk siapa bendera berkibar di udara

Bila akhirnya menjadi lusuh dan kehilangan tanda?

 

Kita terlantar dalam mimpi

Terkapar di atas tanah sendiri

Sedangkan secangkir kopi yang mengepul sepanjang sunyi

Hanya tinggal ampas dan melesap ke tengah malam yang nisbi

 

Maka, kita tak perlu murung, Sahabat…

Pancangkan kuat-kuat kaki di bumi

Meneriakkan suara langit

Ke balik wajah-wajah bertopeng yang menghimpit

 

Kemudian, kita berlari menjumpai sebuah jalan

Sambil membawa sisa-sisa luka

Bagi anak-anak yang kehilangan puisi

Lebih-lebih bagi ibu yang menunggu di dada matahari

 

Sampai akhirnya, kita akan sama-sama gugur

Di atas sepetak tanah yang subur

Sebagai sebuah nama

Yang kekal di bawah tiang bendera

 

Sumenep, 29 Maret 2015

Baca Juga  Di Antara Jalan Hamba dan Khalifah (Pemenang III, Lomba Puisi)

Tinggalkan Komentar

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *