Press "Enter" to skip to content

Mahbub, Pemikir dan Penulis yang Soekarnois

Sekitar 30.000 kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia melakukan doa bersama untuk keselamatan bangsa bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Masjid Nasional Al Akbar, Surabaya, Jumat malam, 17 April 2015.

Doa bersama Presiden Jokowi ini merupakan puncak rangkaian Harlah PMII ke-55. Peringatan Harlah ke-55 yang bertajuk ”Pembela Bangsa Penegak Agama” memberikan pesan bahwa PMII adalah organisasi kemahasiswaan yang akan menjadi benteng Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menyebarkan nilai Islam rahmatan lil alamin.

PMII adalah salah satu karya dan peninggalan Sahabat Mahbub Djunaedi yang berprofesi sebagai jurnalis, esais, sastrawan, penerjemah dan politisi tersohor. Mahbub merupakan ketua umum pertama PP PMII yaitu periode 1960-1967, ia juga sempat menjabat di GPAnsor dan PBNU. 55 tahun lalu, Pak dipilih sebagai ketua umum pertama setelah 13 mahasiswa NU melakukan rapat di Surabaya dan mendeklair berdirinya PMII.

Mereka adalah Sahabat Chalid Mawardi, Sahabat Said Budairy (Jakarta), Sahabat M. Makmun Syukri BA (Bandung), Sahabat Hilman (Bandung), Sahabat H. Ismail Makky (Yogyakarta), Sahabat Moennsif Nachrowi (Yogyakarta), Nuril Huda Suaidy HA (Surakarta), Sahabat Laily Manysur (Surakarta), Sahabat Abd. Wahab Jailani (Semarang), Sahabat Hisbullah Huda (Surabaya), Sahabat M. Kholid Narbuko (Malang) dan Sahabat Ahmad Hussein (Makassar).

Pada tanggal 14-16 April 1960, mereka menggodok organ baru di Yayasan Khadijah Surabaya. Akhirnya, tanggal 17 April 1960 lahirlah organisasi mahasiswa NU yang diberi nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Tidak berselang lama, tahun 1961 PMII melaksanakan Muktamar (Kongres) I  di Tawangmangu, Solo yang menghasilkan deklarasi Tawangmangu.

Dari sini dimulailah kiprah PMII dalam percaturan nasional. Tahun 1963 Kongres II PMII digelar di Yogyakarta. Kongres ini menegaskan kembali esensi Deklarasi Tawangmangu yang dikenal dengan Penegasan Yogyakarta. Tahun 1965 PMII mengadakan TC II di Megamendung, Bogor, untuk menyikapi problem kehidupan masyarakat dan negara.

Baca Juga  Ada Apa dengan PKI?

Sebagai kader PMII, penulis lebih sering merenungkan tentang tulis Pak Mahbub. Itu karena Nama besar Pak Mahbub. Orang sudah kenal Pak Mahbub sebagai penulis dan jurnalis sejak sebelum berdirinya organisasi yang ia pimpin selama 7 tahun itu. Pak Mahbub Pernah menduduki kursi Ketua Umum PWI Pusat (1955-1970), di bidang jurnalistik ini beliau meraih popularitasnya sebagai penulis esai kelas wahid di Indonesia.

Pak mahbub pernah menjadi kolumnis tetap di Tempo dan Kompas. Ciri khas tulisannya adalah humor, kreativitas berbahasa, serta mampu menyajikan persoalan dengan sederhana. Selain itu beliau juga menulis roman yang berjudul Dari Hari ke Hari. Pada tahun 1974 roman ini mandapatkan penghargaan sebagai roman terbaik dari DewanKesenian Jakarta beserta Angin Musim.

KH Hasyim Muzadi adalah salah satu tokoh yang mengenal dekat Pak Mahbub. Ia juga mengikutinya masuk Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan NU yang kemudian membesarkan namanya. Kiai Hasyim masuk menjadi kader PMII dengan mula-mula mengikuti pendidikan dan pelatihan yang digelar Pengurus Besar PMII di Mega Mendung, Bogor, Jawa Barat, tahun 1964.

Kegiatan itu diikuti mahasiswa terbaik dan terpilih dari seluruh penjuru Tanah Air. Kiai Hasyim dan beberapa teman mewakili PMII kota Malang. Saat kegiatan itulah, Kiai Hasyim mulai mengenal lebih dekat pendiri PMII, Mahbub Djunaidi dan kawan-kawannya. Ia bahkan juga memahami dan mendalami pemikiran serta gerakan Pak Mahbub sebagai pendiri dan aktivis PMII. Pak Mahbub, katanya, menggabungkan pemikiran kelompok nasionalis dan keislaman.

Kiai Hasyim bercerita, Pak Mahbub itu seorang Soekarnois. Pemikirannya menggabungkan pemikiran nasionalis dan keislaman. Itu pula yang menjadi dasar gerakan PMII. Pada masa awal berdirinya, PMII berkembang pesat. Sebab, Himpuan Mahasiswa Islam (HMI) yang lebih awal berdiri dianggap banyak kalangan terlalu radikal, sehingga para mahasiswa NU, enggan masuk HMI.

Baca Juga  Sambangi Desa Terpencil, PMII Airlangga Beri Pengobatan Gratis

Maka lahirlah PMII yang dibawa Mahbub dengan konsep baru. PMII bisa mewadahi kelompok mahasiswa yang tak mau bergabung dengan HMI. Karena itulah perkembangan PMII sangat cepat. 55 tahun PMII, kini sudah menjadi organisasi kemahasiswaan terbesar di Indonesia juga dunia. Di antara tugas kader PMII ke depan adalah melestarikan dan menjaga pemikiran dan karya-karya Pak Mahbub.

Pertama, sebagai penulis Pak Mahbub adalah pemikir yang moderat. Islam yang ramah bukan marah. Maka tak salah jika Jokowi menyorot soal ISIS saat hadir pada perayaan Harlah PMII. Kedua , Pak Mahbub sebagai politisi. NU tak perlu khawatir bahwa PMII masih terus melahirkan banyak politisi ulung dan tersohor. Sebut saja, nama Khofifah Indar Parawansa, Muhaimin Iskandar Imam Nahrowi, Hanif Dhakiri, Nusron Wahid, Marwan Jafar, Lukman Hakim Syaifuddin, mereka semua adalah kader terbaik PMII di eranya yang kini jadi penerus pak Mahbub sebagai politisi.

Ketiga, Pak Mahbub sebagai penulis dan jurnalis. Kini lumayan banyak kader PMII yang terjun ke dunia jurnalistik dan tulis menulis. Karena itu, karya tulis perlu menjadi bagian dari pengkaderan PMII. Dengan demikian, ke depan semua kader PMII bisa seperti Pak Mahbub yaitu memperjuangkan sesuatu melalui tulisan.

Satu hal yang belum bisa dilampaui kader PMII bahwa tulisan Pak Mahbub bisa jadi menjadi ”bacaan wajib” tiap pagi. Pak Mahbub biasa diundang ke Istana untuk berdiskusi lebih dalam tentang isi tulisannya. Teman-teman Pak Mahbub sangat mengenang beliau yang selalu bilang ”saya ingin menulis hingga tak lagi mampu menulis,” katanya.

Ditulis oleh: Ahmad Millah Hasan (Kader PMII, Tenaga Ahli Menteri Sosial RI Bidang Komunikasi dan Media)

Tulisan juga dimuat di Harian Sindo Edisi Sabtu, 25 April 2015 serta sindo.com

Baca Juga  Buku untuk Foto Terbaik di Arena Harlah

Tinggalkan Komentar

One Comment

  1. Isman Nasution Isman Nasution 19 December 2017

    Menarik sekali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *