Kajian Kosmologis Strategis dalam Menghadapi MEA

JAKARTA – Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) DKI Jakarta kembali menggelar kajian dwi mingguan. Forum yang diberi nama Kajian Kosmologi Strategis (KKS) ini digelar, untuk membahas persoalan-persoalan yang terjadi di Jakarta, menjelang diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2016.

 

KKS ini dilaksanakan di gedung Pengururs Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang terletak di Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat, pada Selasa (3/2). Mulyadi Permana, Ketua PKC PMII DKI Jakarta menyebutkan KKS adalah sebagai simbol. Yakni sebagai simbol perjuangan masyarakat kecil, simbol toleransi beragama, dan simbol Islam rahmatan lil’alamin (rahmat dan kebaikan bagi alam semesta beserta isinya).

Ia juga mengatakan bahwa kader-kader PMII yang juga merupakan kader NU, harus mampu memaknai nama NU sebagai simbol perjuangan rakyat, dan simbol Islam ahlussunnah wal jamaah untuk memperjuangkan nilai-nilai keadilan, toleransi, moderasi dan harmoni.

“89 tahun NU menjadi simbol harmoni dan toleransi, harus mampu menjadi semangat kader-kader PMII untuk berkontribusi membangun bangsa, dengan mengkaji dan memahami persoalan yang ada di sekitar kita. Untuk bersama-sama pemerintah berbuat yang terbaik untuk masyarakat. Dan itu alasan kenapa KKS  kami laksanakan rutin di PBNU,” ujarnya.

 

KKS kali ini, dilaksanakan mengkaji persoalan kondusivitas Jakarta saat ini dan di Era MEA 2016. Kegiatan ini dihadiri oleh Asisten Teritorial Kodam Jaya, Kolonel Arudji Anwar mewakili Panglima Kodam Jaya, kemudian Direktorat Binmas Polda Metro Jaya, AKBP H. Jajang Hasan Basri mewakili Kapolda Metro Jaya, dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DKI Jakarta Taufan Bakri mewakili Gubernur DKI Jakarta sebagai narasumber.

Sebagaimana prolog yang disampaikan oleh Moderator Diskusi, Zaky Mahendra Zulkarnaen yang juga merupakan Ketua Umum PMII Jakarta Timur, bahwa Jakarta saat ini disebut sebagai kota paling tidak aman di dunia oleh sebuah lembaga survey. Sementara itu, di tahun 2016 Jakarta akan menghadapi MEA.

Baca Juga  Hadiri Sarasehan, PB PMII Dorong Rayon Siapkan SDM

“Bagaimana Indonesia akan menghadapi MEA jika Ibukota Jakarta dianggap sebagai kota tidak aman? Dan bagaimana kinerja pemerintah dalam menghadapi persoalan ini?,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Kolonel Arudji Anwar mengawali pembicaraan dengan menyampaikan tugas bela teritorial yang dilakukan oleh Kodam Jaya, untuk mempertahankan Jakarta dan NKRI sebagai langkah hard power, di samping langkah intelejen.

Selanjutnya, selain hard power Kodam Jaya juga mengambil langkah soft power yakni dengan memaksimalkan kekuatan sosial politik untuk meredam hal-hal negatif. Hal ini dilakukan dengan mengajak pemerintah bersama masyarakat dan mahasiswa untuk bekerjasama, dengan menghadiri kegiatan masyarakat dan mahasiswa di kampus-kampus. Kemudian keduanya dikombinasi menjadi smart power untuk memperkuat pertahanan Indonesia dari infiltrasi.

“Kami hadir ke masyarakat dan ke kampus-kampus untuk membuka pikiran dan hati masyarakat dan mahasiswa untuk menyadari perang proxy yang sedang kita hadapi,” ungkap Arudji.

Calon doktor Universitas Padjajaran tersebut juga menjelaskan, bahwa perang proxy adalah perang yang tidak tampak menggunakan tangan ke-3, untuk merongrong dan mengambil kekayaan alam Indonesia sebesar-sebesarnya. Hal tersebut menurutnya, dilakukan melalui penyebaran narkoba, penyakit AIDS, media sosial dan sebagainya.

“Penetrasi narkoba semakin parah, malah masuk kategori darurat narkoba. Pengguna narkoba aktif saat ini sudah menembus 4,2 juta orang, dan setiap hari ada 50 orang meninggal akibat adiktif kronis. Sehingga yang terjadi kedepan adalah lost generation, generasi kita tidak bisa berfikir, dipenuhi halusinasi, dan tidak peduli nasib bangsa lagi,” ujarnya.

Ancaman lainnya lanjutnya, yaitu penyakit AIDS yang menyerang mayoritas generasi muda. Bahkan AIDS menjadi genosida bagi rakyat Afrika dikala dihancurkan oleh negara barat. Sebagaimana diketahui bahwa pusat studi AIDS milik Amerika berada di wilayah ASEAN, Thailand.

Baca Juga  Tolak Kenaikan BBM, PMII Pamekasan Aksi Pasca Pengumuman

Narkoba dan AIDS adalah langkah bangsa lain untuk menghancurkan generasi bangsa Indonesia. Indonesia menjadi sasaran, karena terletak di daerah ekuator atau khatulistiwa yang memiliki kekayaan alam dan sumber energi besar, yang dibutuhkan semua bangsa di dunia, ketika jumlah penduduk dunia semakin meledak. Baginya, agenda MEA, ACFTA, APEC tidak lain adalah instrumen untuk menguasai Indonesia.

“Saat bangsa lain sedang sibuk mencari cara untuk menguasai energi, air, pangan dan lainnya. Dan ketika generasi kita dihancurkan dengan narkoba, AIDS dan lain-lain. Ternyata kita sedang asyik dengan media sosial yang isinya nonfact semua. Tayangan televisi yang tidak mendidik dan merusak moral anak-anak. Nyuri ayam saja masuk TV, tayangan bacok-bacokan, tawuran, dan kekerasan sangat terbuka,” sesalnya.

“Lihat pemerintahan Pak Jokowi belum sampai 100 hari sudah dipenuhi gonjang-ganjing media. Gonjang-ganjing yang akan meruntuhkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Kau tidak akan percaya lagi dengan TNI-mu, polisi-mu, KPK-mu, DPR-mu, dan lain-lain. Hancurlah bangsa ini,” tegasnya.

Terkait ancaman perang proxy ia menambahkan, harus memantapkan kondusivitas wilayah dengan kembali ke tugas pokok masing-masing dengan kerja. Aparat pemerintah bekerja, masyarakat pun harus memikirkan bagaimana berkontribusi untuk negara.

“Negara memang sudah ada yang mengatur, tetapi pikirkan apa yang bisa kita perbuat untuk bangsa. Sehingga Kodam Jaya pun sedang membangun wilayah/teritorial mandiri di mana keluarga bisa mencukupi kebutuhan sendiri, dengan memelihara ternak dan menanam tanaman di rumah masing-masing. Selain mendampingi kajian dan proses pembangunan energi terbarukan (bioenergi) untuk ketahanan energi bangsa kita,” ujarnya.(*/poy)

 

 

300x250
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *