Islam Indonesia

Menyapa Ahmadiyah; Sedikit dari Sekian Keragaman Iman Islam

E-mail Cetak PDF

Oleh Didik Suyuthi

Bentrok antar massa ormas dan warga penganut Ahmadiyah di Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat menyusul tindakan penyegelan Masjid Ahmadiyah oleh aparat pemerintah Kabupaten Kuningan Senin (26/7) lalu, sekaligus menjadi bukti baru ketidak saktian Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri yang diterbitkan dua tahun lalu.

Melihat gejalanya dimana aksi kekerasan serupa selalu kambuh setiap jelang ramadhan, kasus saling serang antara massa ormas dengan penganut Ahmadiyah pekan kemarin sepertinya bukan kali terakhir. Apalagi dengan melihat kesan kekurang tegasan aparat selama ini, besar kemungkinan serangan demi serangan oleh massa kontra Ahmadiyah terhadap penganut sekte Al-Mirzaiyah ini akan terus berlanjut di hari-hari nanti, di kantong-kantong Ahmadiyah lainnya. Terkait ketidaktegasan ini tokoh ormas Islam Kuningan, Jawa Barat, Abdurahman Asegaf bahkan sempat menuding, merupakan salah satu alasan utama kenapa massa kontra Ahmadiyah terus bertindak pro aktif dengan mendatangi Masjid jemaah Ahmadiyah sehingga terletup bentrokan di Manislor.

Selanjutnya...
 

Agenda Rekonfigurasi dalam Muktamar 32 NU

E-mail Cetak PDF

Oleh KH. Andi Jamaro Dulung, M.Si
(Ketua PBNU)

Menapaki usianya yang ke-82, Nahdlatul Ulama’ tentu saja semakin memasuki tahap “pematangan”, baik secara jama’ah maupun jam’iyah. Turut berkiprah, serta mewarnai sejarah Republik ini selama hampir satu abad, seharusnya memberi NU pengalaman yang memadai dalam mencari bentuknya yang ideal. Sejarah mencatat, NU selalu terlibat sebagai aktor yang diperhitungkan dalam setiap fase perubahan konstalasi Nasional. NU pernah menjalani masa-masa sebagai partai politik, hingga akhirnya kembali ke “khittah”, bahkan secara tidak langsung NU mampu mengantarkan salah satu kader terbaiknya menjadi orang nomor satu di negeri ini, Abdurrahman Wahid.

Namun ironi, hari ini NU seperti kehilangan taring. Percaturan nasional seolah mengesampingkan NU sebagai jangkar perubahan. Salah satu penyebabnya adalah budaya pragmatisme politik yang menggrogoti nilai-nilai luhur politik kebangsaan yang selalu dijunjung tinggi NU. Pragmatisme memang mengikis banyak hal, independensi, kearifan sikap, solidaritas, bahkan kewibawaan NU. Karena itu, menurut hemat saya, Muktamar NU ke 32 di Makassar, harus menjadi pijakan menuju lembaran baru, menampilkan eksistensi kewibawaan organisasi ini kembali sebagai Ormas Islam terbesar di tingkat nasional bahkan dunia.

Selanjutnya...
 

Daulah Mendisiplinkan Muzakki

E-mail Cetak PDF
Oleh Ariyanto*

Pemerintah mengusulkan pemberian ancaman hukuman bagi wajib zakat (muzakki) yang tidak menunaikan kewajibannya. Sebab, selama ini, dalam Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat disebutkan pembayarannya hanya dilaksanakan atas dasar kesadaran dan tidak ada sanksi. Akibatnya, pengumpulan zakat tidak pernah maksimal.

Usulan itu disampaikan Menteri Agama M. Maftuh Basyuni dalam Rapat Kerja dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Selasa (24/2/2009). Menurut Maftuh, sanksi itu ditempuh dengan mempertimbangkan pengelolaan zakat di Indonesia belum menunjukkan hasil memuaskan. Karena itu, setelah sembilan tahun berlakunya UU No 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, kini pemerintah akan mengusulkan untuk merevisi UU tersebut.
Selanjutnya...
 

Ketegangan Politik di Timur Tengah dan Dampaknya terhadap Islam di Indonesia

E-mail Cetak PDF

Oleh: M Guntur Romli

Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Panitia dan siapa pun yang terlibat dalam acara ini. Undangan ini bagi saya adalah penghormatan untuk berbicara dan berdiskusi dengan hadirin sekalian.

Saat ini saya diundang ke sebuah daerah, sebuah kota yang masyarakatnya sangat heterogen, majemuk, plural, bhinneka, yang memiliki aneka-ragam suku bangsa, budaya, agama, kepercayaan, dan tradisi. Ciri khas dari daerah urban. Samarinda adalah Kota Urban. Kesadaran ini akan menjadi perspektif saya dalam menyampaikan ide atau pemikiran yang berkaitan dengan topik kita kali ini.

Selanjutnya...
 

Khawarij, Sang Inspirasi bagi Radikalisme Islam di Indonesia

E-mail Cetak PDF

Kalau dikaji kembali ke belakang, berkembangnya kelompok-kelompok islam radikal di Indonesia sebenarnya bukan tanpa sebab. Ada runutan sejarah yang jauh hari di masa sahabat sudah mulai memperli hatkan gejala itu. Khawarij, kelompok pecahan pada era pemerintahan Abbasyiah abad 18 tidak terlalu berlebihan kalau disebut sebagai awal mula berdirinya faksi islam garis keras.

"Sahabat-sahabat mungkin sudah paham dengan tragedi fitnah menyusul wafatnya Utsman bin Afan, yang lalu diikuti dengan naiknya Sayyidina Ali ke tampuk pemerintahan," ungkap dosen Antropologi Universitas Paramadina Arif Zamhari.

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 26 Januari 2009 12:36 ) Selanjutnya...