Press "Enter" to skip to content

Identitas Muslim adalah (juga) Identitas Amerika

identitas muslim adalah (juga) identitas amerika

JAKARTA – Persoalan Islam dan barat merupakan tema menarik yang tidak pernah selesai untuk diperbincangkan, mulai dari tema sejarah, pemikiran sampai kebudayaan pop. Kali ini kita akan berbicara tentang tiga pekerja seni yang berkarya melalui budaya pop. Mereka adalah Ayad Akhtar (43), pemenang Pulitzer Award kategori drama/teater tahun 2013, G. Willow Wilson (32), pembuat komik marvel dan Musa Syeed (30), seorang pembuat film.

Ayad Akhtar membuat teater berjudul “Disgraced” yang dipentaskan di Broadway. Teater ini menceritakan seorang muslim yang tidak bisa mengelak identitas ke-muslim-annya. Sekali muslim maka selamanya identitas tersebut melekat padanya. Meskipun Amir, tokoh dalam teater tersebut menyatakan bahwa “Aku tidaklah seperti engkau yang engkau pikirkan. Aku akan mendefinisikan diriku dengan istilah dan caraku”.

Akhtar berucap, “Aku mencoba untuk menulis hal yang universal, mudah dipahami banyak orang. Jalan menuju universalitas itu adalah sesuatu yang partikular. Maksudnya, setelah menonton, orang tidak akan berfikir tentang Muslim dan Islam, akan tetapi tentang bagaimana kesetiaan kepada bangsa sendiri (Amerika)”. Disini Akhtar mencoba membawa penonton seandainya berposisi sebagai Amir, seorang muslim amerika.

Pilihannya membuat teater yang bertemakan kehidupan seorang muslim, bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal. Ia bercerita, “Aku punya guru yang menanamkan kepadaku tentang sesuatu tanpa kusadari. Sejak saat itu aku ingin menjadi seorang penulis yang baik, menulis bak kaum modernis Eropa Tengah. Lalu sesuatu berubah (khususnya pasca peristiwa 9/11), aku mulai menyadari bahwa aku bisa menulis tentang pengalaman pribadiku, aku bisa menulis tentang komunitas yang kuketahui. Aku melihat pengalaman Muslim-Amerika sebagai khazanah abadi yang ada di Amerika. Melalui penggambaran bagian tertentu sebuah komunitas, pada dasarnya kita sedang mencari potret diri kita sebagai orang Amerika”.

Baca Juga  Tingkatkan Kualitas Transmigrasi, Mendes Terapkan Kawasan Konprehensif

Sedangkan G. Willow Wilson menciptakan tokoh bernama Ms. Marvel, seorang pahlawan perempuan berusia 16 tahun. Awalnya familiar sebagai tokoh fiksi yang kental dengan budaya Amerika, akan tetapi jika diamati akan terlihat pembagian antara Identitas Amerika dan Identitas Pakistan atau Identitas Muslim. Dimana dia harus berusaha menampakkan identitasnya sebagai seorang muslim juga identitasnya sebagai seorang Amerika. Dia semacam pembuat standar anak muda Amerika-Muslim terlebih posisinya sebagai superhero.

Tentang pilihannya terhadap pahlawan berlatar Muslim-Amerika ini, Wilson bercerita, “aku tidak tahu bahwa Islam merupakan subjek dari segala yang aku tulis. Saat kau menulis tentang Muslim, maka orang beranggapan bahwa kau sedang menulis tentang Al-Qur’an, tentang Nabi Muhammad. Tidak masuk akal seandainya individu Muslim menjadi representasi Islam, bisa saja dia berbuat kesalahan yang sama sekali tidak berhubungan dengan Islam.”

Adapun Musa Syeed menyatakan, “Saat tumbuh dewasa, seolah aku punya topik khusus yaitu menjawab pertanyaan tentang Islam. Sebagai seorang Muslim Amerika, hal ini tidaklah mudah. Pada saat aku berkarya, orang meragukan kualitas karyaku sebab identitasku yang seorang muslim. Aku merasa saat harus membuktikan sesuatu tentang Islam, maka aku semakin merasa bukan sebagai muslim yang baik dan hasil karyaku pun bukanlah karya yang baik”.

Soal karya yang dijustifikasi sebagai penggambaran Islam, dia berkata “Aku mencintai komunitasku, namun lama sekali aku menyadarinya, sebab aku sering marah dengan komunitasku. Inilah salah satu motivasiku kenapa aku bercerita sesuatu yang berasal dari dunia Islam”. “Ada satu film yang aku protes, judulnya “True Lies” (dibintangi Arnold Schwarzenegger and Jamie Lee Curtis, film itu dianggap memojokkan Islam). Aku berpikir disini ada yang salah tentang Islam. Kemudian aku meyakini bahwa film memiliki efek besar maka aku memilih berkarir di jalur perfilman”. (had/emka)

Baca Juga  PMII Peduli Budaya Nusantara

Diadaptasi dari www.nytimes.com, 26 Oktober 2014.

Tinggalkan Komentar

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *