Press "Enter" to skip to content

Hadapi MEA, Mahasiswa Indonesia Dikhawatirkan Kalah Bersaing

20150203_151056
KKS: Diskusi Kajian Kosmologi Strategis (KKS) di gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) beberapa waktu lalu.

JAKARTA – Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tinggal menghitung hari. Pasar bebas Asia yang akan diberlakukan pada tahun 2016 ini pun menuai gelisah di kalangan masyarakat. Bahkan dikhawatirkan, Mahasiswa Indonesia akan kalah bersaing dalam menghadapi era ini.

Hal tersebut diungkapkan Taufan Bakri, dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DKI Jakarta, saat menghadiri diskusi Kajian Kosmologi Strategis (KKS) di gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yang dimotori oleh PKC PMII DKI Jakarta beberapa waktu lalu.

“Kalau melihat ini, mahasiswa kita pun akan kalah bersaing. Saat ini yang dibutuhkan adalah kerja keras, profesionalitas dan keahlian. Ingat, bahwa di perbankan dan di lembaga-lembaga keuangan saja isinya banyak Filiphina. Di Pelindo banyak Korea, industri-industri dikuasai oleh Jepang. Dan tenaga kesehatan pun nanti harus disertifikasi standar internasional,” ungkap Taufan.

Ia memaparkan, bahwa kondisi Ibukota saat ini, Jakarta memiliki pangsa pasar yang sangat besar. Sebab, terdapat 10 juta orang beraktifitas pada malam hari dan 12 hingga 15 Juta orang yang beraktifitas di siang hari.

“Artinya, ada 12 hingga 15 juta mulut yang harus disuapi. Dan itu adalah pangsa pasar yang luar biasa,” ujarnya.

Menghadapi hal tersebut ia mengungkapkan, bahwa Pemerintah DKI Jakarta telah mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas. Persiapan tersebut dilakukan melalui Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Program tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang mahir berbahasa Inggris dan memiliki intelegensi di atas 7,5. Selain itu, Pemda DKI juga mempersiapkan Taman Kanak-kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berkualitas.

“Saat ini kita manjadi animal economy. Siapa yang bisa bayar bisa apa saja. Hey bung kencing saja bayar,” seru Taufan.

Baca Juga  Sekelumit Tentang KH Wahab Chasbullah

Ia justru mempertanyakan ketahanan ekonomi Indonesia setelah MEA diberlakukan. Ia khawatir, bahwa barang-barang yang akan dipasarkan di Indonesia bukanlah barang-barang berkualitas, namun barang sisa.

“Ini sebenarnya apek (bau) dan gombalisasi. Mana ketahanan ekonomi kita, mereka akan datang ke Indonesia membawa sampah. Barang-barang yang tak laku di negaranya akan dilempar ke Indonesia,” ketus Taufan.(*/poy)

Tinggalkan Komentar

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *