SENTRUM INFORMASI GERAKAN DAN MAHASISWA
   
TEXT_SIZE
English (United Kingdom)Indonesian (Indonesia)

Opini

Partai Politik dan Praktek Korupsi

Di dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 2008 tentang Partai Politik menyebutkan bahwa “Partai Politik adalah organisasi yang dibentuk oleh sekelompok Warga Negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945”.

Partai Politik di Indonesia pertama kali didirikan oleh kaum pergerakan pada tahun 1911 bernama Indische Partij, mempermaklumkan “nasionalisme Indonesia dan menuntut kemerdekaan”. Inilah pangkal tolak lahirnya partai politik di tanah air sebagai alat perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia.

 

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ; Akankah menjadi mimpi yang terbeli?

Oleh : Arif Taufiq Nurrachman Aziez




“…Sampai kapan mimpi itu kita beli, sampai nanti sampai habis terjual harga diri…..Sampai nanti, sampai kita tak bisa bermimpi” (Iwan Fals)

Akankah menjadi mimpi yang terbeli?, tidak bermaksud menunjukkan keputus-asaan. Tetapi menyadarkan kita bahwa mimpi besar perlindungan kehidupan sosial rakyat Indonesia masih belum terwujud, karena Rancangan Undang Undang (RUU) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sampai sekarang belum ditetapkan DPR bersama Pemerintah.

BPJS merupakan sebuah lembaga baru yang dirancang untuk memberikan program jaminan sosial kepada masyarakat, bersifat nirlaba, dana amanah, bersifat nasional, akuntabel, transparan, dengan portabilitas. Pembentukan lembaga ini merupakan amanah UU No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. UU ini menjadi tonggak reformasi jaminan sosial di Indonesia, dimana negara memberikan jaminan sosial meliputi: Jaminan Kesehatan (JK), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), Jaminan Kematian (JKM).

 

PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI SOLUSI PERMASALAHAN BANGSA

OLEH: AFRIOGA FELMI SYARGAWI*

Bangsa indonesia akhir-akhir ini mengalami dekadensi moral yang amat parah, kalau boleh dibilang sudah memasuki tahap stadium empat. Mulai dari permasalahan hancurnya nilai-nilai moral, merebaknya ketidakadilan, tipisnya rasa solidaritas, krisis kepemimpinan dan semakin merajalelanya praktek Korupsi yang dapat menghancurkan bangsa ini.  Berbagai kejadian dan fenomena yang terjadi semakin membuka mata kita bahwasanya bangsa ini harus di beri obat yang mujarab dan ampuh untuk bisa menyembuhkan penyakit kronis tersebut.  Pendidikan Karakter mungkin bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi semua permasalahan tersebut, alasan-alasan kemerosotan moral, dekadensi kemanusiaan yang terjadi tidak hanya dalam generasi muda kita, namun telah menjadi ciri khas abad kita, seharusnya membuat kita perlu mepertimbangkan kembali bagaimana lembaga pendidikan mampu menyumbangkan perannya bagi perbaikan kultur. Sebuah kultur yang membuat peradaban kita semakin manusiawi.

   

'Capital Intensive' dan 'Labor Intensive' in Indonesia

Penulis: Endar Prasetio
PMII Komisariat Fakultas Ekonomi dan Bisnis 
UIN Syarif Hidayatullah 

Walaupun judulnya bergaya barat tetapi isinya tetap nasionalisme Indonesia demi menjaga martabat bangsa dan negara serta tanah air tercinta Indonesia yang sedang tumbuh dan berkembang dalam desakan ideologi asing yang berusaha menawarkan ide dan gagasan demi kemajuan bangsa danmengurangi jumlah pengangguran serta mengentaskan kemiskinan, namun itu pula tidak cukup kuat alasan untuk bisa kita terima karena secara rasional itu akan mengabaikan tujuan pembangunan yang telah ditetapkan dalam pasal 33 UUD 1945. Apa yang akan terjadi jika kita terima penawaran tersebut dapat dilihat dari ketidakberesan disetiap aspek kehidupan sosial, politik dan ekonomi. Kebebasan setiap individu untuk bisa mendapatkan apa pun yang dicita-citakan olehnya dan menjadi harapan hidup untuk diwujudkan dan itu menjadi sikap yang adil karena berusaha dalam kemandirian untuk keberhasilan dirinya dan bangsanya adalah hal yang wajar. Sesuai judul yang saya pilih untuk menulis maka terlebih dulu kita mengetahui perbedaan antara 'capital intensiev' dan 'labour intensive' karena dua hal tersebut yang akan menjadi fokus tulisan ini. 
 

Refleksi 50 Tahun Perjalanan Gerakan PMII

1. Pemandu utama gerakan adalah tujuan organisasi. Tujuan organisasi kurang lebih sama dengan cita-cita. Tujuan letaknya di depan, menarik kita seutuhnya untuk maju. Namun tujuan juga terletak di belakang, mendorong inspirasi dan menguatkan daya refleksi kita atas seluruh aktivitas harian organisasi kita.

Dimana-mana, tujuan atau cita-cita tidak bisa diwujudkan dalam satu ayunan langkah, satu kegiatan, acara atau program; malah mungkin membutuhkan beberapa generasi hingga tujuan tersebut terwujud. Dan jarang sekali ada sebuah organisasi-sosial, negara, dan seterusnya yang menyatakan bahwa tujuannya telah tercapai.

 

Tujuan PMII, dalam pandangan kami, adalah fundamental yang seringkali luput dari perhatian kegiatan, perhatian program dan perhatian intelektual kita. Tujuan PMII, mohon maaf kalau salah, bahkan kalah populer dengan komitmen, diskursus, isu seksi yang dikunyah sehari-hari oleh PMII (yang dulu-dulu) seperti: pembelaan kaum mustadh’afin, mewujudkan kesejahteraan, masyarakat egaliter, demokratisasi, civil society, HAM dst.

 

Dalam beberapa kesempatan terlibat di forum kaderisasi, kami menyempatkan bertanya kepada peserta: apa tujuan PMII? Banyak di antara mereka yang gamang menjawab atau malah tidak tahu. Mereka yaitu sahabat-sahabat anggota baru dan lama yang menginjak semester II, IV dan bahkan ada yang semester X; di antaranya adalah pengurus PMII. Ada beberapa jawaban yang muncul dengan merujuk pada isu demokratisasi, khazanah intelektual marxisme, cita-cita gerakan gender dan lain sebagainya. Sekali waktu ada yang kemudian membuka ‘kunci jawaban’ dari halaman belakang lembar KTA, dan itupun tertulis dengan redaksi yang keliru.

Ini gambaran bahwa tujuan PMII belum ber-rumah di kedalaman kognisi atau (apalagi) batin anggota dan kader kita. Rumah tujuan PMII masih di lembaran kertas konstitusi organisasi, belum di tubuh aktivis PMII.

Ini juga gambaran bahwa dalam proses berorganisasi kita di segala lini (kaderisasi, diseminasi pengetahuan serta wacana, disiplin organisasi, aksi), kita belum mampu menginternalisir apa yang dimaui oleh PMII kepada anggota-anggota. Anggota belum mengerti bahwa PMII memiliki tujuannya sendiri, tujuan yang harus menjadi ‘kiblat’ keseluruhan aktivitas dan gerakan organisasi. Ini juga dapat berarti bahwa kita bergerak dan berorganisasi dengan tingkat improvisasi yang sangat tinggi – sekali lagi, mohon maaf kalau ini pun keliru.

Dengan kondisi demikian, maka boleh jadi wajar bila kami mengambil hipotesis seperti ini: perlambatan dan keringnya inspirasi gerak organisasi disebabkan oleh, salah satunya, kurangnya perhatian atas tujuan organisasi kita. Kami sebut salah satu, karena dalam pandangan kami tidak ada faktor tunggal yang mengakibatkan PMII, secara umum, berada dalam kondisi yang tidak menggembirakan seperti sekarang ini.

2. Tujuan PMII jauh dari heroisme yang khas melekat pada organisasi mahasiswa. Juga tidak menunjuk adanya sebuah cita-cita sistem sosial-politik yang harus diperjuangkan. Tujuan PMII memberikan perhatian besar kepada, apa yang kami sebut di sini sebagai "membangun kualitas individu".

Beberapa organisasi lain, memiliki cita-cita sistem sosial-politik di dalam tujuannya. Organisasi kiri memiliki ikhwal yang serupa. Namun PMII tidak sendiri, organisasi lain menunjukkan sifat tujuan organisasi yang sama yaitu berorientasi pada kualitas individu, bukan mengarah pada pembentukan sistem tertentu dengan "nama" tertentu.

Dalam wacana publik yang didominasi oleh cita-cita membangun sistem, tata sosial-politik dan segala jenis yang serupa, membangun kualitas individu sebagai pusat rupanya kurang populer. Terlebih ketika kurang lebih satu setengah dekade lalu PMII mulai berdialog dengan diskursus marxisme-sosialis, tujuan PMII makin tidak populer dan cenderung ’dimakan’ oleh diskursus tersebut. Saat ini ketika wacana publik mulai sepi dari heroisme "kiri", tujuan PMII tetap belum terangkat ke permukaan kesadaran gerak PMII "paling tidak belum terangkat secara massif.

Namun menurut hemat kami, andai saja, sekali lagi andai saja, tujuan PMII yang berorientasi pada pembangunan kualitas individu tersebut menjadi titik tuju bersama di seluruh bidang dan tingkat kepengurusan (PB – PR), PMII akan menembukan bentuknya yang unik dan, lebih penting, maju.

Sebab dalam tujuan PMII terkandung kelengkapan yang tidak dimiliki oleh organisasi lain yaitu: ketangguhan individu dalam ilmu/pengetahuan dan ketrampilan, dalam etika, keyakinan Batin, moralitas, dan nasionalis. Tidak berlebihan bila kami berani meyakini bahwa demikianlah sosok kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia di masa mendatang.

Tujuan PMII juga menegaskan bahwa PMII terbuka bagi persemaian lintas disiplin ilmu. Bukan hanya fakultas sosial dan humaniora melainkan juga fakultas eksakta, semua memiliki akses yang sama, sejajar dan sama tinggi bagi tujuan PMII. Sejak dari tujuan, PMII tidak memiliki kecenderungan diskriminatif terhadap perbedaan latar belakang disiplin ilmu, apalagi perguruan tinggi.

Dalam tujuan organisasi, terdapat 6 (enam) konsep yang harus dipenuhi oleh anggota dan kader PMII untuk menjadi pribadi/individu Muslim Indonesia:

1. Taqwa kepada Allah SWT
2. Berbudi luhur
3. Berilmu
4. Cakap
5. Bertanggung jawab mengamalkan ilmunya
6. Komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia

Keenam konsep di atas sepenuhnya dapat diakses oleh setiap orang, setiap anggota dan kader PMII; tak peduli jenis kelamin, tak peduli fakultas, tak peduli asal daerah. Menurut hemat kami, apapun nama bagi kegiatan dan kesibukan organisasi, atau apapun perangkat intelektual yang dibangun PMII, kesanalah, ke tujuan organisasi, semua beralamat. 

3. Dan PMII sering cemburu dengan kebesaran organisasi lain. Mungkin kita harus melihat secara jernih letak persis kecemburuan kita. Juga melihat secara pasti di titik mana kita bersimpang jalan dengan tujuan organisasi kita, bila kita memang telah bersimpang jalan.

Sebab dari simakan kami atas tutur orang-orang tua, atau melihat serba sekilas kepada organisasi lain yang lebih kuat dan"bertenaga", hanya mereka yang berpegang teguh pada asas, nilai dan tujuan besarnyalah yang mampu bertahan mengatasi zaman. Demikian pula dengan bangsa-bangsa besar, tumbuh di atas ikatan yang kuat terhadap nilai dan tujuan mereka. Dan mereka runtuh ketika melupakan tujuan serta menggampangkan nilai-nilai luhur yang membesarkan mereka.

Kurang lebih begitu. Tapi, apakah memang begitu?

Dalam pandangan kami, kita terlalu sering mencemburui mereka yang memiliki disiplin kuat, sementara kita sendiri longgar dalam disiplin. Kita juga sering mencemburui mereka yang serius melatih diri sementara kita belum begitu. Kita juga sering cemburu pada progresifitas mereka yang berada di gerakan "jalur kiri" sementara sejak semula kita telah menegaskan bahwa kita di "jalur tengah".

Artinya, sekali lagi menurut kami, kecemburuan kita sering tidak beralasan. Sebab tidak disertai dengan ikhtiar yang sejajar dengan mereka yang kita cemburui. Bahkan mungkin kita berada di ruang yang berbeda dengan mereka yang kita cemburui.

Barangkali memang bukan perkara mudah bagi kita untuk mencari bentuk baru. Sekian lama kita kita menjadi formalis, kemudian kita sadari sebagai belenggu. Kemudian, mengiringi runtuhnya orde baru, kita menjadi anti-formalis; mengklaim diri menjadi substansialis.

Dan saat ini, apa? Tampaknya kita terlalu gemar anti terhadap yang lain, ketika ada yang baru yang tampak lebih top. Saat ini yaitu, ketika formalisme dan non-formalisme bukan dua pilihan yang harus diambil salah satu sambil menyingkirkan yang lain. Ini saat ketika formalisme dan non-formalisme mesti dirangkai bukan dalam relasi oposisi-biner, tapi sesama fakta dari penampang kenyataan yang sama. Apakah PMII saat ini telah mampu mengatasi perspektif biner yang berpuluh-puluh tahun menjebaknya?

Bagi kami, menemukan kesefahaman atas masalah yang kita hadapi bersama merupakan sebuah kemewahan, sebuah capaian yang harus disyukuri dengan segala ketulusan.

Ada baiknya, bila kita merefleksikan PMII dari tujuannya. Sebab selama beberapa waktu yang telah kita lewati, jangan-jangan kita sudah mengajak para mahasiswa untuk masuk PMII tanpa kita sendiri tahu apa tujuan PMII. Ibarat kita mengajak orang naik kereta sementara kita sendiri tak tahu kemana kereta itu menuju.

Akhirnya, izinkan kami tutup catatan pengantar ini dengan penggalan syair Octavio Paz, seorang penyair Meksiko:

Kita harus tidur dengan mata terbuka

Kita harus bermimpi dengan tangan-tangan kitaÂ

(Kendi Pecah) 

   

Page 1 of 2

"Inilah Kami Wahai Indonesia. Satu Barisan dan Satu CIta"

Login Form