Di Antara Jalan Hamba dan Khalifah (Pemenang III, Lomba Puisi)

Tuhan, kau dera aku pada dasar kehinaanku

Berjuta tahun hina meminta, kesadaran adalah kesembuhan dari segala lara

Dan aku tahu tak ada sekat pada kemanusianku

Semua semau dan semampuku

 

Dua ratus juta mulut di antara keturunan bangsa tantrayana

Di antara sejarah kapitayan

Di antara sejarah peliknya pancamakara-ma-lima

Dikawal dalam penggalan han-tu-han

 

Ku pilih dari penggalan itu ke kanan

Hakikat manusia sebagai hamba, tanpa jabatan

Yang dibuat dan ditinggikan oleh makhluk

Tugas dan jabatannya adalah khalifah dengan penuh tunduk

 

Dua ratus juta telinga berpasang

Siapa boleh mengaku, kami adalah adya abdi bumi pertiwi

Pawang, penjaga, penahan

Kau berkahi pada masa keturunan kiayi

 

Soekarno boleh bicara

Budi Utomo boleh mengerang

Mahbub Junaidi boleh mendekar kata

Nusantara

Pendekar, pembela, penegak membalut kultur masih subur gemilang

 

Tak ada celah Eropa kembali merajang, si sipit bahkan hingga kaum kuncir kuning dan eks-uni soviet

bergumul berfusi raksasa Asia

Tamengku, adalah penjaga keseimbangan tanah dan air

Bintang sembilan dalam pola doa-doa para sunan

 

Tak boleh lupa lewat setengah abad itu

Hingga seabad bahkan beribu masa, jangan khianat! Jangan berpecah!

Tuhanku, hilangkan bayangan tumpahan dominan kuning pada seluruh tancapan bendera di tanah daratan surga-Mu

 

Di antara jalan hamba dan khalifah ada pelayan dan pimpinan

Keduanya satu, lebur. Satu-duanya tiada beda

Di antara jalur lurus Al Gafar, Al Malik, Al Qudus, As Salam

300x250
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone
Baca Juga  Pengumuman Pemenang Lomba Design Logo Harlah

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *