Press "Enter" to skip to content

Dalami Teroris, Perancis Belajar Ke NU

Masyarakat Indonesia terkenal akan sopan santun dan toleransinya. Tradisi kebudayaan toleransi itu tetap dijaga hingga kini oleh bangsa Indonesia, terkhusus oleh Nahdlatul Ulama (NU) sebagai Organisasi Kemasyarakatan di Indonesia yang istiqamah pada paham Islam moderat. Tidak sedikit Negara lain yang belajar tentang toleransi kepada NU.

Sebagaimana dilansir NU Online (Selasa 14/10/2014) bahwa, Duta Besar Perancis untuk Indonesia, Corrine Breuze, melakukan kunjungan kerja ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Senin (13/10). Kedatangannya untuk mempelajari cara mengatasi radikalisme dan terorisme, khususnya Negara Islam Iraq dan Syria (ISIS).

Corrine Breuze datang ke PBNU dengan didampingi Sekretaris Pertama di Kedutaan Besar Perancis, Jean-Louis Bertrand, serta seorang penerjemah. Kedatangannya diterima Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj, yang didampingi oleh Sekretaris Jenderal PBNU H. Marsudi Syuhud, Ketua PBNU H. Iqbal Sullam, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU M. Sulton Fatoni dan Imdadun Rahmat, serta Ketua Lembaga Ta’mir Masjid PBNU KH. Abdul Manan Ghoni, Sekretaris Lembaga Kesehatan PBNU Anggia Ermarini, dan Sekretaris Lembaga Pengembangan Pertanian PBNU Imam Pituduh.

“Pertama-tama saya ucapkan terimakasih atas kesempatan bertamu ke NU. Seperti Bapak sampaikan tadi, sebagaimana tujuan kami datang ke sini, soal raadikalisme dan terorisme, bagaimana seharusnya mereka diperlakukan?” tanya Breuze.

“(Mengatasi) radikalisme itu tugas kami. Tapi ketika sudah menjadi (aksi) terorisme, itu tugas aparat, baik itu polisi, TNI, atau lembaga resmi pemerintah lainnya. Jadi deradikalisasi itu tugas organisasi kemasyarakatan seperti NU, tapi penanganan terorisme itu ranah pemerintah,” jawab Kiai Said.

Mengenai deradikalisasi, Breuze menanyakan metode seperti apa yang digunakan NU. Apakah pendekatan langsung ke terpidana terorisme, atau melalui pendidikan yang sifatnya pencegahan?

Baca Juga  Iqbal Arojabi, Nahkodai PMII Kota Serang

“Semua kami lakukan. Kami memiliki pesantren, madrasah, dan masjid, yang selalu mengajarkan Islam yang sebenarnya, Islam tasamuh, tawasuth, dan tawazun. Pengurus-pengurus NU dan ulama-ulama di setiap kesempatan juga menyuarakan bahaya raadikalisme,” tandas Kiai Said.

Lebih jauh mengenai radikalisme dan terorisme, Jean-Louis Bertrand menanyakan mengenai ancaman ISIS, khususnya di Indonesia. Pertanyaan ini disampaikan karena Perancis diakuinya sudah merasakan langsung keganasan ISIS, setelah seorang warganya menjadi korban.

“Kalau di Indonesia Insya Allah aman,” tegas Kiai Said, ulama bergelar Doktor bidang tasawuf lulusan Universitas Ummul Qura’, Mekah.

Sementara Sekretaris Jenderal PBNU H. Marsudi Syuhud, mengatakan bahwa PBNU juga menampung beberapa mahasiswa dari Afghanistan dan Patani, Thailand, untuk belajar tentang Islam yang sebenarnya. “Mereka menerima beasiswa penuh dari PBNU, dan kami membutuhkan dukungan untuk ini,” pungkasnya. (samsul hadi/mahbib)

Tinggalkan Komentar

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *