Press "Enter" to skip to content

Chalid Mawardi: PMII dan NU Harus Berjuang Bersama

JAKARTA – Mendekati penyelenggaraan Muktamar NU, semakin banyak yang membincangkan terkait rekomendasi Munas dan Konbes NU, diamana meminta PMII kembali menjadi Banom. Dari berbagai diskursus hingga obrolan di warung kopi tidak luput membincangkan independensi dan interdependennya PMII dengan NU.

Minggu lalu, tim pembuatan film dokumenter PMII mendatangi Kiai Chalid Mawardi, satu dari 13 pendiri PMII. Maksud kedatangan meminta gambaran realitas terkait pendirian PMII dan Ucapan Harlah ke-55 yang akan digelar di Surabaya nanti. Namun kelihatannya, isu tentang posisi PMII lebih menarik di mata Kiai yang fasih bebebrapa bahasa internasional ini. Terbukti sebelum dimulainya pembicaraan dan cerita tentang pendirian PMII, Kiai Chalid justru terlebih dahulu bertanya tentang sikap kader PMII yang diminta kembali menjadi Banom NU.

Setelah mendengar jawaban adanya pro dan kontra di kalangan kader secara pribadi, Kiai Chalid terlihat kecewa kepada kader PMII yang tidak mau kembali menjadi Banom NU. Dengan nada agak keras ia bertanya, siapa dan kenapa gak mau?

Kiai Chalid kemudian menceritakan, terkait independensi PMII saat itu dimana NU sebagai partai politik. Menurutnya, PMII tidak bisa berjuang sendiri untuk membangun bangsa Indonesia yang besar. Maka kembali menjadi banom adalah langkah yang tepat saat ini. Terlebih dalam menjaga dan melestarikan Aswaja, PMII harus bersama-sama dengan NU karena memang perjuangannya sama.

Bahkan Kiai Chalid berandai-andai, “Jika saat ini saya Ketua PMII, dan ada pengurus yang tidak mau kembali menjadi banom, akan saya reashuffle mereka,” katanya.(Maq)

Baca Juga  Charlie Hebdo dan Kasus Zidane

Tinggalkan Komentar

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *