Press "Enter" to skip to content

Catatan Hubungan PMII-NU dari Ensiklopedia NU

Oleh: Ahmad Miftahul Karomah

Semakin dekatnya pelaksanaan Muktamar NU ke-33, berbanding lurus dengan semakin banyaknya perbincangan soal hubungan PMII-NU. Bagaimana tidak, muktamar yang akan diselenggarakan di Jombang Agustus mendatang, menjadi deadline bagi PMII untuk kembali menjadi Badan Otonom (Banom) NU. Hal ini berdasarkan rekomendasi Munas dan Konbes NU 2014 lalu.

Meski telah menyatakan independensinya melalui Deklarasi Murnajati (1972), PMII tetap tidak bisa dipisahkan dengan NU karena banyak alasan. Independensi PMII yang dilatar belakangi situasi dan sistem politik pada saat itu, menjadikan hubungan PMII-NU gamang karena terpotong dengan akar sosial dan sejarahnya.

“Pernyataan independensi ini membuat PMII gamang dalam kaitannya dengan NU. Di satu sisi, mereka lahir dari rahim NU dan dimaksudkan sebagai organisasi mahasiswa NU. Di sisi lain, mereka menyatakan independensi, yang sama artinya dengan memotong akar sosial dan sejarah mereka sendiri. Kegamangan inilah yang mewarnai hubungan PMII-NU” (Ensiklopedia NU, Jilid 3, Hal. 216)

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, gamang diartikan kekhawatiran. Gamang dimaksud dalam ensiklopedia itu, barangkali berdasarkan asumsi atau pandangan pihak di luar NU dan PMII. Tentu yang merasakan gamang atau tidak adalah PMII dan NU itu sendiri. Jika ingin tau rasa manisnya gula seperti apa, maka kita harus mencicipinya.

PMII telah membuktikan selama perjalanan independensi hingga saat ini tidak merasakan kegelisahan akan hubungannya dengan NU. PMII tetap meyakini dirinya sebagai mahasiswa NU. Meski independen PMII tetap menjadi organisasi yang melakukan kaderisasi bagi intelektual muda nahdliyin. Pengakuan akan hal ini bukan hanya dari internal PMII atau NU, tetapi juga diakui dari luar PMII dan NU. Pengakuan ini juga bukan klaim, seperti yang sering menjadi kelakar pada ceramah atau pidatonya orang-orang NU.

Baca Juga  PC PMII Sarolangun Segera Dilantik

Tercatatnya PMII dalam ensiklopedia NU, juga menjadi salah satu bukti pengakuan bahwa PMII adalah NU. Terlebih dalam ensiklopedia NU itu dicatat bahwa alumni PMII menjadi tulang punggung NU saat ini. Ensiklopedia NU itu terbit pada tahun 2014, yang berarti pada saat penulisan dan penerbitan posisi PMII interdependen dengan NU.

“Kebanyakan alumni PMII menjadi tulang punggung NU, baik di tingkat cabang, wilayah maupun pusat. Kenyataan ini menjukkan bahwa PMII memang organisasi kader NU”

Oleh karena itu, meski bukan sebagai Banom, PMII tetap menjadi supplier kader bagi NU. Suplai PMII akan kader untuk NU tidak dapat diragukan lagi. Lihat saja di struktur dari pusat sampai daerah, baik di struktur NU maupun banomnya. Sebut saja Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, merupakan kader asli PMII. Ia adalah Ketua KOPRI PB PMII bersamaan dengan Almarhum Sahabat Iqbal Assegaf sebgaia ketua Umum PB PMII, periode sebelumnya ia menjabat Ketua Umum PC PMII Surabaya dan Komisariat Unair. Ketua Umum PP GP Ansor dan Fatayat NU saat ini juga semuanya kader PMII asli. Ini sekaligus membantah tuduhan yang menyatakan bahwa PMII saat ini sudah tidak NU lagi. Kader-kader NU yang digembleng di PMII merupakan kader NU tulen, bukan kader NU onlen.

Independensi PMII juga diakui hanya sebagai siyasah dan formalitas belaka. ”Pada praktiknya, pernyataan itu sekedar formalistik belaka. PMII tetap menjadi bagian dan seklaigus perpanjangan dari NU, baik secara struktural maupun fungsional. Bertahun-tahun sekretariat PMII menumpang di kantor PBNU. Secara kultural dan ideologis, PMII tetaplah mahasiswa penganut Islam Ahlussunah Wal Jama’ah dan nasionalis-religius sebagaimana NU”.

Diberikannya space kantor untuk PMII di PBNU menjadi bukti, bahwa meskipun posisi PMII independen maupun interdependen, PMII tetap diakui sebagai keluarga besar warga nahdliyin. PMII tidak pernah diusir dari kantor PBNU. Meski kini sekretariat PMII tidak lagi di PBNU, namun hal itu bukan karena pengusiran terhadap PMII. Tetapi karena PMII telah mampu untuk mempunyai gedung sendiri, sebagaimana Banom-Banom NU lain yang juga memiliki kantor dan mengatur rumah tangganya sendiri-sendiri. Pindahnya sekretriat PMII juga bukan karena niatan untuk menjauhkan diri dari NU.

Baca Juga  28 Oktober, Pemuda DKI Deklarasikan GMPKK

Secara ideologis dan kultur, PMII juga tetap sebagaimana NU. Dalam setiap jenjang kaderisasi formal PMII tetap disampaikan dan dilakukan doktrinasi apa yang menjadi paham NU. Bahwa Islam Ahlussunah Wal Jama’ah yang menjadi ideologi PMII, adalah Aswaja ala NU. PMII juga tetap teguh melestarikan tradisi-tradisi NU, seperti ziarah, tahlil, shalawatan, dan lain sebagainya. Dari sisi formalistik simbolik, PMII juga sangat jelas terlihat NU-nya, seperti contohnya penggunaan istilah Harlah. Semua kader PMII juga fasih melafadzkan penutup salam ciri khas NU “Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq”, ini karena kader PMII adalah kader NU tulen bukan kader onlen.

Yang setuju PMII kembali menjadi Banom, dengan alasannya dipastikan tidak berniat untuk melemahkan PMII. Yang tetap sepakat dengan posisi PMII seperti sekarang, dengan alasannya jelas untuk kebaikan PMII, NU dan Indoensia. NU sebagai orang tua wajar saja meminta anaknya kembali ke rumah. Akan tetapi permintaan itu, akan lebih bijak jika tidak dibarengi ancaman penghapusan serta penggantian nama PMII dari Kartu Keluarga Besar NU dengan nama yang lain. Sebagai organisasi yang besar, PMII tentu berisi berbagai macam karakteristik anggotanya. Ada karakter mahasiswa yang ingin tetap berada di rumah orang tua dengan alasannya, ada pula mahasiswa yang ingin indekos dengan alasannya sendiri.

“Penulis adalah Ketua PB PMII Bidang Media dan Komunikasi Publik”

Tinggalkan Komentar

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *