Press "Enter" to skip to content

Budaya Masyarakat Timur di Film “ILO ILO”

ilo ilo

Oleh : Ahmad Miftahul Karomah

Belajar tentang nagara lain? Banyak hal yang bisa dipelajari tentang negara lain, dalam hal ini Singapura. Singapura sangat dekat dari Indonesia. Dipisahkan selat sempit dengan pulau Batam, menjadi negara terdekat yang dipisahkan (berbatasan) oleh laut. Belajar suatu bangsa bisa sejarahnya, sistem pemerintahannya, budaya masyarakatnya, dan lain sebagainya. Alat belajarnya juga bermacam-macam, salah satunya melalui film.

Menarik untuk mengalisis film Singapura yang untuk pertama kalinya meraih piala pada ajang Cannes Film Festival, kategori Camera D’or. Para pemerannya berasal dari negara, Malaysia, Filipina dan tentunya Singapura. Saya nonton film ini pada selasa (20/1), menghadiri undangan nonton bareng Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Anil Kumal Nayar dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Singapura.

Ilo-ilo bercerita tentang sebuah keluarga di Singapura yang pas-pasan ekonominya, hidup di masa krisis tahun 1997. Hwee Leng (Yeo Yann Yann) harus terus bekerja dalam keadaan hamil karena sang suami, Teck (Chen Tianwen) tidak terlalu sukses yang pekerjaannya seorang sales. Tapi ia selalu terganggu oleh kenakalan anaknya Jiale (Koh Jia Ler) di sekolah. Karena itu, ia mempekerjakan seorang pembantu Teresa dipanggil Terry (Angeli Bayani), seorang buruh migrant asal Filipina.

Memang adegan, cerita, emosi dan ending film besutan Anthony Chen ini biasa saja. Sepintas karakter pemain dan adegan justru lebih banyak negatifnya. Judi togel, anak sekolah nakal dan keluarga yang kurang harmonis tampil dari awal sampai akhir cerita. Menunjukkan “apa adanya” dari film ini, sepintas hanya itulah menariknya.

Namun beberapa adegan cukup lekat diingatan saya, meski sedikit dan durasinya sangat singkat serta tidak menjadi topik utama. Di mana adegan itu menggambarkan budaya orang timur yang biasanya mulai luntur pada masyarakat perkotaan terlebih Singapura yang merupakan negara kosmopolitan.

Baca Juga  Awali Tahun 2018, Ini Pesan Ketum untuk Kader PMII seluruh Indonesia

Pertama, Terry baru saja sampai di rumah Hwee. Terry yang seorang buruh migrant disambut dengan hormat selayaknya tamu. Hwee memanggil Jiale untuk menyambut Terry dan membantu membawakan barang-barangnya ke kamar.

Kedua, Jaile harus berbagi kamar dengan si pembantu. Berbagi tanpa sekat, 1 kamar untuk berdua. Jika bukan karakter budaya timur, pastinya si pembantu yang buruh migrant itu disuruh menempati gudang atau tempat lain.

Ketiga, saat Hwee menahan pasport si pembantu migrant, Teck sempat menanyakan apakah itu tidak berlebihan? Pertanyaan Teck menunjukkan kepercayaan, tidak terlalu memunculkan kecurigaan yang berlebih pada buruh migrant. Meski menyerahkan pasport hal yang lazim dan lumrah bagi buruh migrant. Namun, pada kenyataannya, banyak kisah buruh migrant yang pasportnya ditahan oleh sang majikan, karena curiga yang berlebih, meski ia legal.

Keempat, adegan yang cukup banyak diulang dan memang menjadi rutinitas yaitu Teck dan keluarganya makan satu meja dengan pemabntu yang buruh migrant. Tidak membedakan posisi dan tempat makan pembantunya itu.

Kelima, adegan pada pertemuan keluarga besar dalam rangka ulang tahun neneknya Jiale. Kursi yang disiapkan sesuai dengan jumlah orang dalam keluarga. Teck dan Hwee lantas mengatakan mereka lupa menyampaikan jika sudah memiliki seorang pembantu, dan meminta kursi tambahan untuk pembantunya itu. Tidak berhasil memang, karena alasan sempit dan sulit menghidangkan makanan. Akhirnya Terry duduk di luar ruangan itu. Sekali lagi karakter timur muncul, Teck menyampaikan permohonan maaf kepada Terry karena tidak bisa bersama duduk satu ruangan. Sudah kebiasaan dan lumrah, jika majikan ada acara, pasti pembantu diluar (pada orang timur sekalipun). Tapi disini justru menunjukkan sesuatu yang sangat berbeda.

Baca Juga  Tolak UU MD3, PMII Cabang Metro bawa Keranda Mayat sebagai simbol Matinya Demokrasi

Keenam, mobil mereka yang sudah tua mogok saat akan pulang setelah berziarah ke makam kakek Jiale. Teck menyuruh Jiale anak laki-lakinya mendorong mobil. Tidak ada kata-kata perintah untuk Terry seorang perempuan. Meski Terry turun dan mendorong, namun itu karena kesadarannya yang sebagai pembantu. Mobil tidak berjalan karena kurang tenaga dorong. Teck turun dan meminta Terry pegang kemudi, setelah sebelumnya menanyakan terlebih dahulu apakah Terry bisa menyetir. Disini Teck menanggalkan keegoisannya sebagai majikan.

Ketujuh, di akhir cerita keluarga Teck terpaksa harus memberhentikan Terry karena alasan tidak mampu lagi membayar gajinya. Sang majikan sekeluarga mengantarkan kepulangan Terry hingga ke bandara. Disini Hwee sempat juga memberikan kenangan kepada Terry, si buruh migrant. Ini sangat jauh berbeda dengan cerita banyak majikan memecat pembantunya yang buruh migrant, tanpa dibayarkan gajinya, passport ditahan dan ditelantarkan akhirnya tidak bisa pulang ke negara asalnya.

Itulah adegan budaya timur pada film Singapura garapan tahun 2013 yang ada diingatan saya. Meski film itu adegannya dibuat berdasarkan keinginan si sutradara, dan sangat mudah untuk melakukan pencitraan. Namun saya meyakini masih bisa menemui keluarga yang masih melestarikan budaya orang timur seperti keluarga Teck, di kota-kota metropolitan dunia khususnya Singapura (cerita dalam film ini) yang sudah banyak meninggalkan budaya ketimuran.

Tinggalkan Komentar

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *