Bedah Buku “Pesantren, Akar Pendidikan Islam Nusantara”

JOMBANG – Helmy Faishal Zaini melaunching dan membedah buku karyanya berjudul “Pesantren Akar Pendidikan Islam Nusantara”. Helmy dalam bukunya menjelaskan Islam yang masuk ke Indonesia dengan pendekatan sejarah, sehingga memunculkan istilah Islam Nusantara.

“Islam Nusantara tidak bisa lepas dari sejarah masuknya islam ke Indonesia. Ternyata islam pernah ‘mampir’ ke nusantara sekitar tahun 700 Masehi yang dengan bukti makam Syekh Mahmud di daerah Barus, Medan namun belum menyebar ke tanah Jawa,” kata Helmy membuka bedah bukunya dalam rangka partisipasi muktamar ke 33 NU di Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Minggu (2/8).

Helmy menambahkan salah satu daerah dimana Islam masuk tanpa menggunakan senjata adalah di Indonesia. Para ulama awal masuk ke Indonesia dengan menggunakan metode pendekatan budaya setempat.

“Di era Walisongo pesantren pertama dikembangkan dan islam mengalami perkembangan yang pesat pada abad ke 12-13. Pesantren sudah melakukan tugas konstitusional dimana mencerdaskan warga negara, bahkan mengajarkan karakter akhlakul karimah yang mana belum tentu diajarkan oleh lembaga pendidikan lain,” imbuh mantan Menteri PDT ini.

Syafiq Hasyim, pembedah buku mengatakan dikalangan sejarawan Islam masuk ke Indonesia dikenal dengan 3 teori. Pertama Teori Arabia yang mengatakan islam datang dari jazirah arab, kedua, Teori China, dimana islam datang dari China meskipun bukan orang China yang menyebarkan tapi pedagang, salah satunya yang dijelaskan penulis ditemukan makam di Barus, Medan. “Ketiga, Islam datang dari Gujarat yang banyak diakui paling dipercaya dikarenakan teori ini banyak ditemukan bukti-bukti prasasti tertulis,” jelas Syafiq intelektual muda NU ini.

Sementara pembedah kedua yakni Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, KH. Abdussalam Shohib menuturkan pesantren tempat menggembleng santri untuk menjadi mandiri dan tangguh di masyarakat. Pesantren memang paling lantang dalam membentengi NKRI.

Baca Juga  Pesantren Peringati Maulid Nabi dengan Tanam Pohon

“Pesantren sejak dulu mandiri tidak bergantung siapapun. Saya meminta seluruh elemen yang hadir ini terus mengawal keseimbangan antara mempertahankan nilai-nilai tradisi pesantren dan memasukkan modernisasi, tuturnya.(SD/ZA)

300x250
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *