Press "Enter" to skip to content

Aktualisasi Qurban Dalam Memebentuk Keluarga Sakinah

Aktualisasi Nilai-nilai Qurban dalam Membentuk Keluarga Sakinah

Oleh : Muhammad Ainul Yakin, SQ

Qurban sebagai sarana ibadah mendekatkan diri kepada Allah SWT telah ditetapkan dalam Surah Al-Kautsar [108]: 2 yang memerintahkan untuk melaksanakan penyembelihan sebagai bukti syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Atas anjuran ini mendapat sambutan antusias dari masyarakat muslim mulai dari lapisan masyarakat tradisional sampai kepada masyarakat modern, hal ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang melaksanakan perintah ini.

Sebagai bentuk rasa syukur, ibadah qurban sangat diajurkan kepada orang yang mampu, bahkan Madzhab Hanafi mengatakan bagi orang yang mampu, melaksanakan ibadah qurban adalah wajib bagi muslim yang mampu. Rasulullah SWT pernah mengatakan “siapa saja yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan qurban, akan tetapi dia tidak melaksanakannya, maka jangan mendekat kepada tempat salat kami”, (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Ibn Majah dari Abu Hurairah).

Pelaksanaan qurban tidak bisa kita lepaskan dari kisah ketaatan Nabi Ibrahim dan istrinya Siti Hajar serta anaknya Nabi Isma’il. Selama pernikahan nabi Ibrahim dengan Siti Hajar telah lama menantikan kehadiran anak, setelah penantian yang cukup panjang barulah Nabi Ismail lahir. Setalah penantian panjang kelahiran nabi Ismail sebagai nikmat Allah SWT menguji ketaatan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar dengan memerintahkan kepada nabi Ibrahim dan Istrinya untuk hijarah ke kota Makkah yang pada saat itu Makkah bukan daerah yang dikunjungi orang-orang karena daerah ini adalah daerah gersang yang tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Setelah sampai di Kota Makkah, Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih Ismail. Perintah ini pada awalnya diragukan oleh Nabi Ibrahim sebab ini tidak lazim, akan tetapi setelah perenungan perintah inipun dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim dengan terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Nabi Ismail. Setelah mendapat persetujuan dari Nabi Ismail perintah inipun langsung dilaksanakan. Atas ketaatan ini Allah SWT mengabadikannya dalam Al-Qur’an dan menjadikan penyembelihan yang telah diganti Allah SWT menjadi penyembelihan hewan dan menjadikannya sebagai ibadah yang sampai sekarang ini dilakukan oleh masyarakat muslim.

Baca Juga  Transformatif: Pilihan Mutlak seorang Pemimpin

Kisah di atas menggambarkan bahwa ibadah qurban tidak hanya sebatas memberikan kesempatan kepada orang yang tidak mampu untuk memakan daging atau mencukupi kebutuhan gizinya atau hanya sebatas ibadah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Akan tetapi ada nilai-nilai yang sedikit diperhatikan masyarakat muslim adalah nilai musyawarah dan kasih sayang antara suami dengan istri dan orang tua dengan anaknya. Itulah mengapa pelaksanaan ibadah qurban tidak bisa dipisahkan dari keluarga, sebab, dalam kajian fikih, Mazhab Maliki mengatakan bahwa sapi atau onta yang dikongsikan 7 dan 10 orang tersebut terdiri dari kerabat.

Siti Hajar dengan ketaatan kepada Allah SWT dan kepada suaminya Ibrahim melahirkan berkah yang besar baik secara ekonomis dan non ekonomis. Kota Makkah yang awalnya tidak ditemukan air sebagai sumber kehidupan atas ketaatan, kesabaran serta kasih sayang timbullah air yang dikenal dengan air zam-zam yang sampai sekarang airnya terus mengalir dan menjadi oleh-oleh yang dinantikan setiap pulang ibadah haji atau umrah.

Ibrahim sebagai ayah dan istri juga memberikan contoh yang baik kepada istrinya dan anaknya dengan menunjukkan dan mengajarkan ketaatan kepada Allah SWT dengan rela melaksanakan perintah untuk menyembelih Ismail dengan tidak melupakan kepentingan dari anaknya dengan cara memberikan kesempatan kepada anaknya untuk menyampaikan pendapat tetang perintah Allah SWT tersebut. Ismail sebagai anak juga menujukkan hal yang sama dengan menyampaikan pendapatnya yang rela untuk disembelih apabila itu perintah Allah SWT dan sabar atas semuanya. Sedangkan untuk zaman sekarang ini Allah SWT telah menggantikan pengorbanan manusia dengan penyembelihan hewan qurban.

Gambaran keluarga nabi Ibrahim ini memberikan kepada kita tiga pelajaran penting dalam berkeluarga. Pertama, pentingnya menciptakan keluarga yang taat kepada Allah SWT dengan menanamkan nilai-nilai ketuhanan dalam setiap anggota keluarga sehingga embodied dan tidak dapat dilepaskan dengan iming-iming apapun. Kedua, pentingnya menciptakan komunikasi yang baik antara istri dengan suami, orang tua dengan anak dan begitu juga sebaliknya anak dengan orang tua. Sehingga miskomunikasi dapat diminimalisir sehingga perselisihan yang timbul dari komukasi dapat dihindari. Ketiga, pelajaran terakhir yang penting untuk kita ambil adalah menanamkan nilai kasih sayang kedalam anggota keluarga kita. Sebab, tanpa kasih sayang hubungan harmonis tidak akan tercipta. Kasih sayang pula yang akan melahirkan karakter anak yang berakhlak karimah atau kecerdasan spiritual dan kecerdasan dalam pendidikan. Ketiga pelajaran ini tidak mungkin kita pisahkan satu sama lain, karena inilah awal dari terciptanya keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah sebagaimana digambarkan oleh Allah SWT dalam Q.S. Ar-Rum [30]: 22, yang pada akhirnya nanti akan menentukan nasib agama dan bangsa.

Baca Juga  Ikhtiar Kaderisasi utk Bangsa, Agama dan Indonesia

Mudah-mudahan nilai-nilai kekeluargaan yang terdapat dalam ibadah qurban ini dapat diterapkan dalam kehidupan rumah tangga. Amiin.

Wallahua’lam bi al-shawab.

Tinggalkan Komentar

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *